Personal Blog

SI X, SI X, AND GOD Cerpen @edi_akhiles


“Aku nyesal banget kuliah ekonomi dulu…”
“Lhah, kok…?”
“Nyatanya aku nggak kuat ekonomi gini.”
“Itu dua hal yang berbedalah.”
“Ekonomi kan tentang kekuatan duit. Apa lagi?”
“Tapi tetap nggak bisa digebyah sesederhana itu.”
“Setidaknya, aku nggak down banget kalau dulu kuliah lain.”
“Hemm…apa mahasiswa kampus Islam harus jadi ustadz semua?”
“Ya, nggak sih…”
“Bukankah seabrek yang juara ilmu agama tapi bedebah?!”
“Iya..iyaaa…iya sih…”
“Bukankah juga seabrek yang jago ilmu ekonomi tapi kere?”
“Hemm…aku banget itu!”
“Cuma di antara abrekan itu.”
“Ya, tapi cuma rasanya kok ilmu kuliahku jadi sia-sia gitu…”
“Nggak ada ilmu yang sia-sialah.”
“Ada! Nih, aku!”
“Bukan sia-sia, belum kamu rasakan manfaatnya saja.”
“Sama aja!”
“Nggak! Karena ukuranmu adalah konkret, maka yang abstrak dianggap gagal.”
“Halah, kamu banget itu, filsafat banget itu…!”
“Nyatanya kan begitu?”
“Bukankah orang selalu menuntut konkret to?”
“Itulah penyebab pudarnya hal abstrak, padahal hal abstrak sangat penting!”
“Misal?”
Mindset…”
“Pentingnya?
“Bukankah semua kita bertindak yang konkret berdasar mindset?”
“Tapi kan nggak semua mindset bisa dikonkretkan?”
“Betul. Itu sudah ranah idealisme dan realitas.”
“Jadi di mana pentingnya mindset tadi?”
“Apakah semua ucapanmu tadi tidak berdasar mindset?”
“Ya, mindset…”
“Termasuk ungkapan sesalmu yang konkret tadi?”
“Ya, mindset…”
“Karena mindset-mu menyesal kuliah ekonomi, sikapmu jadi gimana sekarang?”
Down…”
“Dampak down?”
“Yaaa…gimana yaaa…pastinya jadi lemes gitulah…”
“Coba dibalik. Umpama midset-mu nggak nyesal kira-kira gimana sikapmu?”
“Hemm…”
“Sebutlah kamu akan berusaha cari kerja atau merintis usaha kan?”
“Iya, begitulah…”
“Jadi kesimpulannya?”
“Masalahku ada di mindset kalau gitu ya?”
Perfect!”
“Yaa sih…”
“Bukankah mindset itu abstrak, baru menjadi konkret ketika diekspresikan?”
“Iya, benar…”
“Jadi kan sudah ketemu letak pentingnya hal abstrak kan?”
“Tapi apa kalau aku punya mindset beda, lalu konkret hidupku kan beda?”
“Iya dong!”
“Kok yakin banget?!”
“Ya iyalah, semua kan berpangkal dari mindset, yang abstrak itu.”
“Ah, nggak selalu jugalah…”
“Contohkan deh…”
“Umpama aku punya mindset kaya, apa aku akan bisa beneran kaya konkret?”
“Nggak otomatis memang…”
“Jadi kan benar pendapatku tadi…”
“Bukan begitu dong cara menyimpulkannya…”
“Gimana coba?”
“Kamu pengen kaya?”
“Yup!”
“Sekarang apa definisimu tentang kaya?”
“Hemm, nggak usah ribet filosofis lagi, intinya serba cukuplah.”
“Oke. Berarti jika kamu merasa belum kaya, berarti kamu sedang kekurangan?”
“Iya banget!”
“Kurangnya dalam hal apa misal?”
“Nggak punya uang untuk hang out, apalagi punya mobil.”
“Oke. Itu konkret kan ya konsep kayamu.”
“Iya, kaya ya konkretlah, kaya abstrak itu untuk apa?”
“Maksudku gini. Jika kamu sudah memiliki kecukupan dua hal itu, trus apa lagi?”
“Hemm, pasti pengen berkembanglah…”
“Lalu di waktu yang sama kamu kan merasa kekurangan lagi to?”
“Sepanjang keinginan tadi belum terwujud sih iya.”
“Berarti kamu merasa tidak kaya lagi to meski sudah punya uang dan mobil?”
“Yaaa…ya gitu, selama belum tercapai yang tadi itu…”
“Pertanyaanya, sampai kapan kamu akan berhenti ingin dan ingin?”
“Nggak tahu, namanya juga manusia hidup…”
“Itulah letak masalah mindset-mu.”
“Kok masalah?”
“Iya dong! Pengen bisa hang out dan punya mobil, tapi masih pengen yang lain.”
“Wajar kan keinginan?”
“Yups, tapi mencederai target konkretmu untuk kaya yang pertama tadi.”
“Jadi relatif ya…”
“Di situlah letak kebahagiaan hidup karena kita mampu mensyukuri.”
“Syukur?”
“Ya, andai kamu bersyukur dan konsisten dengannya, kamu bakal bahagia, kan?”
“Iya juga sih…”
“Nah, itu masalah pertamamu yang pengen kaya konkret tadi.”
“Masalah lainnya apa lagi?”
“Apa yang telah kamu lakukan untuk mencapai target kaya konkret itu?”
“Belum ada sih…”
“Kenapa belum? Lalu kapan mau kaya konkretnya?”
“Ya belum punya akses aja sekarang, makanya tadi jadi nyesal.”
“Mungkin nggak ada orang tiba-tiba mendatangimu dan memberimu akses?”
“Mustahil! Hari gini mah…”
So?”
“Ya banting-tulang sendiri!”
“Itulah masalahmu selanjutnya.”
“Jelasnya gimana?”
“Kamu pengen kaya tapi kamu nggak mau memperjuangkan aksesmu sendiri.”
“Belum aja, bukan nggak mau.”
“Lha kalau belum mulu, lalu kapan coba?”
“Iya sih…”
“Nah! Berarti kan ini lagi-lagi soal mindset-mu yang abstrak untuk mulai kapan.”
“Iya, betul…”
“Berarti yang abstrak itu, seperti mindset itu penting banget kan?”
“Iya, iya, benar…”
“Oke, tapi kenapa kamu nggak percaya Tuhan sampai sekarang?”
“Ah, Tuhan…”
“Abstrak lagi?”
“Ya gimana ya…?”
“Lagi-lagi kan tentang mindset-mu kan yang menegasi Tuhan dari hidupmu?”
“Ya, kuakui abstrak itu penting, tapi kalau Tuhan, hemm…gimana ya?”
“Gimana apanya?”
“Nggak bisa dibuktiin!”
“Mau bukti Dia ada?”
“Coba deh kalau kamu bisa!”
“Coba lihat cewek bercelana dangkal yang lagi jemur paha dengan bandul itu.”
“Ya, kenapa dia?”
“Seksi kan?”
“Iyalah, aku normal…”
“Terlintas nggak dalam pikiranmu pengen memacarinya?”
“Iyalah…”
“Tapi berat ya cewek kayak dia bakal mau jadi pacarmu.”
“Ya, sulitlah, aku kere gini!”
“Lalu terbayang nggak untuk memperkosanya aja?”
“Hemm…jahatlah itu, jangan!”
“Jahat?”
“Iya, itu nggak layak dilakukan manusialah.”
“Lho, siapa yang mengajarimu tentang nilai itu?”
“Hatikulah…”
“Hati?”
“Iya dong! Manusia punya hati, masak mau jadi pemerkosa kayak ayam aja!”
“Berarti hati yang membisikimu untuk tidak berbuat jahat kan?”
“Iya.”
“Bagaimana ya hati bisa memberitahumu?”
“Kan hati memang menyimpan nurani, nah nurani itu menyuarakan angle.”
“Itulah suara Tuhan!”
“Hati adalah suara Tuhan?”
“Ya!”
“Kok?”
“Ayam punya hati juga nggak?”
“Punyalah.”
“Ayam tahu nilai baik dan buruk dengan hatinya nggak?”
“Nggaklah.”
“Itulah beda hati ayam dengan hati manusia yang bernurani.”
“Nurani itu suara Tuhan berarti?”
“Ya!”
“Gimana dengan manusia yang berbuat jahat padahal punya hati?”
“Itu karena hatinya nggak beda lagi dengan hati ayam!”
“Maksudnya?”
“Nuraninya disingkirkan! Suara Tuhan-nya dicampakkan, jadilah ia jahat!”
“Tuhan ya…”
“Ya, Tuhan terbukti benar adanya dari sekadar membaca hati kita.”
“Hemm, aku masih ngerasa gimana…?”
“Bukankah saat ini hatimu membenarkan pentingnya suara Tuhan itu?”
“Iya sih, tapi…”
“Berarti saat ini suara Tuhan sedang bekerja di hatimu.”
“Berarti ada Tuhan di hatiku?”
“Tuhan sedang mendengarkan obrolan kita.”
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Tanyalah hatimu yang bernurani itu.”
“Caranya?”
“Ayuk, shalat, ntar kamu kan merasakan kehadiran-Nya.”
Jogja, 5 Juni 2013

*) Cerpen dialog ini sekadar sebuah eksperimen teknik.
7 Komentar untuk "SI X, SI X, AND GOD Cerpen @edi_akhiles"

Saya juga punya teknik beginian di salah satu fragmen novelku, kak. melelahkan memang! haha

Cerita tanpa narasi ya ini namanya? Keren. Saya juga punya teman yang kayak begini. Anak komputer tapi gak bisa komputer, gitu katanya. Ya percis kayak cerita ini :)
Mantep mas.

Keren.... Pengen bisa nih nulis sekeren ini :)

teknik penulisan sederhana, perlu di perhatikan diantara dialog dan tanda baca nya, refrensi untuk belajar dengan baik. "terimakasi kasi kak, sejak baca ini. aku semakin mengerti makna memisahkan kata dialog"

This comment has been removed by the author. - Hapus

Back To Top