Personal Blog

SAYA BERJUMPA MALAIKAT



Semalam, saya bertemu dengan seseorang. Pertemuan yang tak disengaja, tak terlintas bahkan.
Ia hadir tiba-tiba dari balik pintu, menepuk pundak saya, lalu duduk begitu saja di depan saya sambil tersenyum. Tak urung, saya pun tersenyum, meski tentu saja senyum saya sangat tak lepas karena didera kebingungan dan keterkejutan.
Tanpa ampun, dia pun bersuara, “Anda pasti orang yang sangat beruntung…”
“Ohh…” Pecahan kata itulah yang melesat dari bibir saya yang tak sempurna mengatup.
“Tahukah kenapa saya bilang demikian?”
Ah, tentu saja saya tak tahu, dan kini saya akan segera tahu karena pasti Anda akan mengatakannya, bukan?
“Saya tidak akan menjelaskan mengapa saya bilang Anda orang yang sangat beruntung…”
Daebak!
Saya menjerit dalam hati diterkam kalimat yang tak terduga itu. Saya tentu tak mampu membendung curiga di hati bahwa Anda jangan-jangan memiliki kemampuan telepati untuk membaca pikiran saya.
“Saya hanya tahu bahwa Anda orang yang sangat beruntung…”
“Ohh…” Kembali pecahan kaca itu melesat dari bibirku.
“Dan pasti Anda ingin menjadi orang yang lebih beruntung, kan?”
Saya menganguk. Pasti.
Saya mulai berpikir kecil di kedalaman ceruk batin, jangan-jangan Anda adalah malaikat atau penipu.
Malaikat, ya karena Anda tampak begitu unik, mulai dari kehadiran yang begitu saja, duduk yang tak biasa, lalu bicara yang sulit dicerna.
Penipu, ya siapa tahu semua itu hanya trik Anda untuk menjungkir-balikkan langgam logika saya, lalu Anda akan mudah masuk untuk menguasai saya.
“Saya tahu bahwa Anda akan menjadi orang yang lebih beruntung lagi di masa yang akan datang…”
“Amiinn…” gumam saya pendek.
“Anda ingin tahu caranya?”
“Tentu…” Saya mulai terbawa alur obrolannya. Tapi saya tetap sepenuhnya sadar, tidak berada dalam kuasa gendam. Tidak.
“Anda hanya perlu melakukan satu hal…” Mantap suaranya!
Cara saya melemparkan mata kepadanya sudah sangat mewakili kalimat saya, “Apa itu?”
“Enjoy your life…”
Ia lalu berdiri, menepuk pundak saya, tersenyum sekelebatan, lalu pergi tanpa sanggup saya cegah dengan seutas suara saya yang tersedak, “Maksudnya?”
Dia bukan penipu! Berarti, dia malaikat!
Sambil melontar asap dari bibir, lima menit kemudian, saya panggil waitress yang sedari 2 jam lalu berdiri saja di dekat pintu masuk itu.
“Iya, Mas…?” sahutnya sigap setelah dekat. Tentu, tersenyum, walau tidak tulus.
“Berapa lama kamu kerja di sini?”
Wajahnya tergeragap, tapi cepat ia menutupinya dengan senyuman. Khas waitress. “Ehhm, hamper dua tahunan…”
“Suka dengan pekerjaan ini?”
“Ehh…suu…suukaa…”
“Jawabanmu menjelaskan kalau kamu tidak suka pekerjaan ini. Agar kamu menjadi orang yang beruntung, enjoy your life…”
Ia melongo sempurna, lalu saya bangkit, dan berdiri melangkah setelah tersenyum kecil. Sambil membayar billing di kasir, saya berharap waitress tadi membatin bahwa saya adalah malaikat!
Nanti, besok, minggu depan, dan seterusnya, saya berharap dia akan melakukan hal yang sama pada orang lain, sehingga akan kian banyak orang di luar sana yang bergumam dengan heran, “Dia malaikat!”
Saya kebut SLK 250 whitepreal ini di jalanan yang kian lelap dipeluk malam yang melegam. Ahhaaa, ternyata menjadi malaikat itu sangat mudah ya. Cukup berpikir dan berbuat, “Enjoy your life…”
Daebak, Yu…
Jogja, 10 Oktober 2013
0 Komentar untuk "SAYA BERJUMPA MALAIKAT"

Back To Top