Personal Blog

MENTERTAWAKAN KEMATIAN: “ORANG BAIK CENDERUNG MATI MUDA”



Sudah lama saya merenungkan fenomena ini: kenapa ya teramat banyak orang yang baik itu mati muda?
Iya lho, coba deh kalian cermati di sekeliling, banyak banget lho kenyataan begini.
Saya lalu berpikir bahwa boleh jadi inilah cara Tuhan untuk “menyelamatkan” hamba-hamba-Nya dari hidup panjang yang hanya akan berpotensi menodai kebersihannya.
Teori probabilitas saya pakai di sini: semakin kau berumur panjang, semakin besarlah peluangmu untuk berghibah, berdusta, berdengki, berhasud, bersongong, bernapsu pada lawan jenis, berserakah, dll., yang sebutlah itu sebagai “dosa-dosa harian” yang kita banget. Sebaliknya, semakin kau berumur pendek, niscaya semakin kecillah potensimu menumpuk dosa.
Di sisi lain, saya menyimpan galau, bahwa jika kian banyak orang baik meninggal cepat, maka tentu kita akan kian kehilangan keteladanan nyata dalam hidup ini.
Lantas, uneg-uneg saya ini seolah kian menemukan legitimasinya bila saya menoleh pada nasihat umum bahwa salah satu ciri kian dekatnya kiamat ialah kian diangkatnya ilmu dari muka bumi ini sebab meninggalnya para ahli ilmu, sehingga yang menyeruak di permukaan adalah kebodohan dan kedzaliman.
Ya, saya pun mengerti kok bahwa pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya adil. Bukankah begitu banyak pula orang baik yang kita kenal dan gurui yang berumur panjang di sekitar kita ya?
Ternyata, saya pun harus gentle menyatakan di sini bahwa hipotesis saya tentang orang baik itu cenderung mati muda cukup sulit untuk diterima, meskipun ia juga cukup sulit untuk ditepikan begitu saja.
Di ujung galau setelah berkirim faatihah kepada kawan-kawan baik yang mati muda, saya berseloroh pada kawan-kawan di sekeliling saya: “Kalau kalian tak ingin mati cepat, sesekali nakallah…”
Mereka ngakak. Iya, ngakak sengakak-ngakaknya. Meski saya mengerti bahwa mereka sangat mengerti konteks dan maksud seloroh saya tentang "nakal" itu.
Kami mentertawakan kematian…
Jogja, 13 Juni 2014
1 Komentar untuk "MENTERTAWAKAN KEMATIAN: “ORANG BAIK CENDERUNG MATI MUDA”"

Bener-bener menyentuh pak edi. Jadi ingat dengan tulisan ade di kompasia**. Jika berkenan monggo mampir :')

http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/12/23/untukmu-ibu-maaf-aku-membenci-ibu-621112.html

Back To Top