Personal Blog

BAB 3 NOVEL #JAMASBON: “PANCING SAKTI UNTUK MAKAN ENAK”



“Aku pengin makan enak!” teriak Bush sambil keluar dari kamar mandi.
“Tempe!” sahut Dirman.
“Ikan pepes!” sahut Bush.
“Punya duit?”
“Nggak ada sih.”
“Lalu?”
Bush mengambil pancingnya, seraya berbisik, “Mancing di kebon, di kolam.”
“Hei, itu milik masjid ini tahu!”
“Lho iya, aku tahu.”
“Kok mau dipancingi?”
“Aku kan amil di sini, namanya amil ya boleh ambil jatah.”
“Ah, sialan, enak aja kamu….”
“Ya sudah, kalau nggak mau, aku mau makan pepes ikan sendirian.”
“Eh ikut….” teriak Butun yang baru pulang kuliah.
“Aku juga ah, kan aku juga amil….” sahut Dirman.
Segera mereka berangkat menuju kebun yang terletak di sebelah utara masjid itu. Di teras sempit yang hanya cukup untuk menjejer jemuran di depan kamar mereka, terdapat sebuah pintu kecil dari seng yang memisahkan antara masjid dengan kebon itu. Dari pintu itulah mereka melesat ke tengah kebon yang cukup luas itu.
Di kebon itu terdapat sekitar 1.000 batang mangga yang sebagiannya sudah besar-besar. Kebon itu memang kebon mangga. Mangga Indramayu, katanya. Hanya ada beberapa batang pohon pisang yang tumbuh sendiri. Kata Kak Syaikho, dulu kebon itu ditanami oleh kakek Mbah Siwon yang telah lama meninggal di Mekkah. Tanah kebon itu dihibahi oleh seorang pengusaha yang kabarnya saat meninggal tubuhnya hitam semua. Kabarnya, pengusaha itu kena balak bisnis hitamnya. Dan hibah itu dimaksudkan untuk menebus dosanya.
“Pasti dia berbisnis aspal ya, Kak?” potong Bush pada cerita Kak Syaikho tentang asal-usul kebon mangga itu.
“Kok aspal?” Kak Syaikho balik bertanya. Heran.
“Katanya bisnis hitam.”
“Bukan, Bush, tapi arang, kayak kamu!” sergah Dirman.
Mata Bush yang tak sipit mendelik ke arah Dirman. Nyaris melompatlah bola matanya.
“Sudah, sudah, kalian ini kok ribut,” potong Kak Syaikho. “Maksud bisnis hitam itu adalah bisnis yang kurang halal, tapi aku nggak tahu juga lho ya itu benar nggaknya, namanya juga rumor.”
Bush mengangguk-angguk, seolah paham benar ia tentang sejarah kebon mangga itu. Ia sempat terpikir, kalau begitu apa hibah yang diniatkan untuk menebus dosa atas harta yang haram bisa diterima ya? Ah, sudahlah, batinnya, aku bingung, mending ngincer ikan-ikannya saja.
Tak lama mereka telah sampai di tengah kebon itu. Ada sebuah kolam ikan yang lumayan besar di antara batang-batang mangga itu. Airnya mengalir lancar dari kali kecil yang terletak di batas utara kebon itu, yang bersebelahan dengan sawah Mbah Siwon.
“Ini ikan apa saja yang dipiara ya?” tanya Bush sambil mengamati air kolam yang tenang itu, seolah sedang memikirkan teknik terbaik memancingi ikan-ikannya.
“Lele, bawal, nila, gurameh juga ada tapi sedikit,” sahut Butun.
Mata Bush terus menatap berkeliling. Ia mengitari kolam itu berkali-kali sambil sesekali mendesis. Kadang pula ia melompat kecil, mendonggakkan kepala ke langit.
Dirman dan Butun yang tak sabar dengan gaya Bush akhirnya berkata.
“Kapan mancingnya?”
“Iya, dari tadi mendesis aja kayak baca mantra sakti aja.”
Bush tak menanggapi. Ia duduk, melinting tembakau dalam ukuran ganjil, kecil-kecil kayak lidi, lalu melemparkan lintingan tembakau itu ke air kolam. Terus ia membuat beberapa kelereng dari tanah, lalu melemparkannya ke dalam kolam. Tapi ada satu kelereng tanah yang didekatkan ke bibirnya, mulutnya komat-kamit, lalu ditelannya.
Dirman dan Butun mengedikkan mata menyaksikan ulah Bush menelan tanah berbentuk kelereng itu.
“Kalian tahu apa, cuma belalang-belalang kayak kalian ini!” suara Bush meninggi. “Ini ya, asal kalian tahu, setiap akan mancing, ada ritualnya. Ya itu tadi aku merapal mantra warisan leluhur dari Nyabakan. Kata kakekku, itu ciptaan Pangeran Gunong Naknong Beto Kalettak….”
“Siapa itu?” Butun dan Dirman menyahut serempak.
“Panjang ceritanya. Intinya dia  itu yang membuka Nyabakan. Kayak Raden Wijaya membuka hutan tarik yang menjadi asal Majapahit. Tahu kalian tentang sejarah Nyabakan?”
“Membayangkan saja kayak gimana, namanya aneh gitu, nggak ada di Google Earth pula, apalagi kok tahu, Bush….” sahut  Dirman.
“Wuihhh, tahu juga kamu Bush tentang Raden Wijaya ya,” kekeh Butun.
“Jangan remehin aku, Tun! Dengarkan ya. Nyabakan itu dulunya adalah hutan lebat, di tengahnya ada danau besarnya. Banyak belibis di sana. Juga ada puteri jelitanya! Ikan-ikannya banyak yang sebesar masjid al-Huda ini….”
Butun dan Dirman saling pandang, meski tetap mendengarkan cerita ganjil Bush. Lalu ngakak.
“Emang ada orang cantik di kampungmu, Bush?!” Dirman terkekeh.
“Masak ada cewek cantik, Bush?!”
Bush mendengus, kesal. “Kalian mau jadi mancing tidak kok rewel begitu?!”
“Iya, iya, lanjutkan,” kata Dirman, meski ia heran membayangkan sebesar apa danau itu jika ikan-ikannya aja sebesar masjid ini.
“Nah, pada suatu malam purnama, datanglah seseorang bernama Pangeran Gunong Naknong Beto Kalettak. Ia berasal dari lautan seberang yang sangat jauh. Ia lalu mandi di danau itu. Saat mandi, tiba-tiba ia merasa kakinya digigiti sesuatu. Ternyata beberapa ekor ikan sebesar masjid al-Huda ini. Pangeran itu segera naik ke darat sambil berteriak, ‘Nyaba Kan, Nyaba Kan, Nyaba Kan…’ Dalam bahasa Madura sekarang, Nyaba itu artinya nyawa, kan itu singkatan dari ikan. Jadi pangeran itu seperti berkata pada ikan-ikan di danau itu, ‘Ini urusan nyawa lho ikan, ini urusan nyawa lho ikan….’ Sejak saat itulah, daerah itu dinamai Nyabakan.”
“Baru dengar riwayat beginian….” kata Dirman.
“Aku juga…”
“Itu belum selesai,” sergah Bush. “Pangeran Gunong Naknong Beto Kalettak itu sakti mandraguna. Setiap ia berkata Nyabakan, sontak danau itu mengecil, ikan-ikannya mengecil, dan rupanya pangeran itu tak sadar akibat kesaktiannya itu. Ia terus berjalan sambil mengucapkan kata Nybakan Nyabakan Nyabakan itu hingga danau itu habis, hutan itu pun habis, pohjon-pohonnya kering seketika. Akibatnya, yang ada sekarang Nyabakan itu menjadi daerah kering sih….”
“Kayak cerita Wiro Sableng ya lama-lama….” kata Butun.
“Puteri jelitanya, Bush?” timpal Dirman.
“Dinikahi sama Pangeran Gunong Naknong Beto Kalettak itu.”
“Lalu apa hubungannya cerita itu dengan ritualmu tadi?”
“Nah, itulah kalian nggak tahu apa-apa kan, Belalang-belalang!” Bush ngekek. “Dari riwayat kakekku ya, diwariskan ilmu kesaktian jika akan mancing untuk menghindari apes kutukan sakti Pangeran Gunong Naknong Beto Kalettak itu. Caranya, sudahlah itu rahasia kesaktian keluarga kami. Intinya, ritualnya tadi itu ya untuk nangkal apes, supaya aku yang orang Nyabakan ini bisa dapat banyak ikan saat mancing, tidak kena kutukan sakti tadi.”
Butun dan Dirman kian tak sabar.
Yowes, sakti-sakti aja dari tadi, lalu kapan kamu mancingnya? Kan cuma kamu yang bawa pancing, Bush?
“Sabar, masih ada satu ritual lagi,” kata Bush sambil menggali tanah di bawah batang mangga, lalu menangkap beberapa ekor cacing kecil. Ia memasang cacing itu ke mata kalinnya, lalu memasukkan satu ekornya ke dalam mulutnya.
Dirman dan Butun sontak ber-hoek-hoek.
“Sekarang kalian harus makan juga satu-satu.”
“Nggak!”
“Ogah!”
Bush menatap mereka lekat-lekat. Rambutnya yang diikat sehelai kain putih penuh coretan huruf Arab yang tak bisa dibaca dengan cara biasa, karena menyerupai rajah, dibasahinya dengan sedikit air kolam itu.
“Ini harus kalian makan. Semua orang yang hadir dalam acara mancingku, juga harus lakukan ritual terakhir ini. Kalau nggak ya gagal kesaktian pancingku ini.”
Dirman menggeleng kuat-kuat.
Butun menyumpal mulutnya dengan kedua tangannya.
“Ya sudah, ikannya nggak bakal dapat banyak dan hanya cukup untukku lho ya….” Lalu Bush mencemplungkan mata kalinya ke kolam. Tak lama, seekor bawal tanggung menggelepar di pancingnya. “Pancingan kedua nggak bakal dapat lagi. Sudah, aku pulang aja, makan bawal ini aja.”
“Bush, jahat gitu, aku gimana?”
“Aku juga pengin, Bush!”
“Kalian ngeyel gitu sih….!” Bush bangun, lalu berjalan pergi sambil menenteng ikan bawalnya. Buru-buru Dirman dan Butun menarik tangan Bush.
“Jijik Bush nelan cacing.”
“Iya, Bush, jijiki…”
Bush berhenti, lalu berkacak pinggang setelah melepas pancing dan ikannya ke tanah. Di antara bayang-bayang matahari yang samar saking  lebatnya daun-daun mangga di kebon itu, Bush berkata, “Percuma kalian disediain tivi sama Kak Syaikho. Semalam aku nonton acara Golden Busway….”
“Acara apaan itu?”
Golden Ways kali?”
“Itu yang kiai Mario Tangguh….”
Oalah, Mario Teguh, Golden Ways, Bushh….!!!” sergah Dirman.
“Haaaa, kok kiai Mario Teguh sih, Bush?!” timpal Butun. Terkekeh ia habis-habisan mendengar kata kiai Golden Ways.
“Nah itu, mauku bilang itu! Sudah, diam!” Bush bergaya membentak melihat Dirman dan Butun mentertawainya. “Ketakutan itu adalah buah pikiran kita sendiri. Jika kita berani, maka kita pun berani! Jika kita takut, maka kita pun takut. Jika kita jijik, maka kita pun jijik! Gitu….”
“Maksudmu, aku jijik nelan cacing itu hanya masalah pikiranku jijik gitu?” sahut Dirman.
“Itu….!” sahut Bush ala Mario Teguh.
Dirman dan Butun manggut-manggut.
“Kalian mau makan enak tidak ini?” tanya Bush.
“Ya mau banget!”
“Ya sudah, telan dulu cacingnya tadi….”
Meski ragu, akhirnya mereka memutuskan menelan cacing itu dengan mata memejam. Bush tersenyum lalu kembali melontarkan mata pancingnya ke kolam. Menit demi menit berlalu. 15 menit tak ada ikan yang terpancing. Dirman dan Butun yang masih sibuk berhoek-hoek dengan bekas licinnya cacing di tenggorokan mereka mulai kelihatan tak sabar.
“Bush, mana ikannya!”
“Katanya sakti!”
Bush diam. Hatinya gerah. Tumben ini pancingku nggak sakti begini, padahal biasanya mudah sekali ikan berhasil kutangkap, gumamnya.
“Huuhhhh, ngibul aja kamu!” teriak Dirman.
“Sial! Mana udah kadung makan cacing lagi!” pekik Butun.
Bush tetap diam. Seribu bahsa. Hanya bahsa kalbunya yang berdenyar galau. Matanya dipejamkan. Ia beneran merapal mantera yang pernah diceritakan tetangganya sebagai mantera sakti memancing: “Inna waddung calut-calut, anik-genik korbina konyik….”
Berkali-kali, bahkan ratusan kali ia merapalnya sampai mulutnya berbusa oleh ludah kental, ikan tak kunjung juga nyangkut di pancingnya.
“Sialan kamu, Bush!” Dirman menjorokkan Bush ke kolam.
Byur!
Sontak Bush basah kuyup.
Butun tak mau kalah, menimpuk Bush dengan tanah yang digaruknya dari tepi kolam. “Ini, Bush, rasakan kesaktianmu….!!!”
Bush memekik, berusaha menghindari timpukan Butun yang kemudian juga diiikuti oleh Dirman. Kolam itu jadi berkecipak tak karuan diselingi teriakan Bush dan makian Dirman dan Butun.
“Siapa itu?”
Sebuah suara yang bergema berhasil menghentikan keriuhan itu. Bush langsung menepi, ngumpet di balik rumput tinggi-tinggi di sisi kolam. Dirman dan Butun yang tak kalah kagetnya langsung nyemplung ke kolam, dan ikut ngumpet di sebelah kanan-kiri Bush.
“Maling ya?!”
Suara itu begitu besar. Bukan, bukan suara Kak Syaikho. Apa mungkin Mbah Siwon? Bukan juga, sebab suara Mbah Siwon agak berat bergetar begitu.
“Kalian maling ikan, heh?!!”
“Bukan, saya Bush…”
“Hush…!” Dirman menyumpal mulut Bush yang bersuara.
“Diam….” bisik Butun.
“Oohhh, kalian ternyata!”
Sontak mereka mendelik melihat Jumak tengah berdiri di tepian kolam sambil menenteng ikan bawal hasil pancingan Bush tadi.
“Kurang ajar kamu, Jum!” pekik Dirman.
“Brengsek kamu!” jerit Butun.
Jumak terkekeh di atas kolam sedemikian puasnya menyaksikan ketiga kawan Jamas Bon-nya basah-basahan di kolam karena ketakutan oleh suaranya yang dibesar-besarkan tadi.
“Makanya, ajak-ajak kalau mau makan enak….”
“Sialan kamu!”
“Kurang ajar!”
Asemmmm….!”
Bush menyemburatkan air kolam ke arah Jumak. Diikuti Dirman dan Butun yang bergerak naik sambil mengejar Jumak. Jumak pun berlari sambil menenteng ikan bawal itu.
“Hei, siapa itu?!”
Sontak keriuhan itu mampat kembali. Suara itu berhasil membunuh nyali mereka. Bush yang masih berada di dalam kolam dengan cepat kembali ke persembunyiannya. Dirman dan Butun langsung berbalik arah kembali nyemplung ke kolam dan bersembunyi di dekat Bush. Jumak yang ikutan panik mendengar teriakan itu, langsung turut nyemplung ke kolam, bersembunyi di sebelah Dirman. Ikan bawal yang digenggamnya sedari tadi juga ikut dibawa nyemplung dan terlepas dari genggamannya.
“Alhamdulillah,” gumam ikan bawal itu sambil ber-kiss bye pada mereka berempat, lalu melindap pergi, bersembunyi, berpelukan dengan anak-cucunya di sebuah lubang yang dalam. Ngoooaahhhaaa…
Seseorang berperawakan agak gemuk berdiri di dekat batang mangga dekat kolam itu. Mbah Siwon! Ia menatap berkeliling, lalu mengambil pancing yang tergeletak di dekat kakinya.
“Ah, ini pasti ada anak nakal yang mau mancingi ikan di kolam masjid ini. Keterlaluan…..”
Beberapa menit ia berdiri di tepi kolam itu, lalu pergi dengan membawa pancing yang sekilas agak dikenalnya. Tapi ia lupa di mana pernah melihat pancing berjoran bambu itu.
Hampir satu jam lamanya Bush, Dirman, Butun, dan Jumak baru berani keluar dari dalam kolam itu. Menoleh kesana-kemari, menyimak keamanan sekitar. Lalu mereka berinjit beriringan dengan tubuh basah kuyup menggigil, meninggalkan kebon mangga itu, kembali ke masjid, lalu menyelinap masuk ke teras kamar. Mereka duduk berjongkok kedinginan. Memeluk dengkul masing-masing.
“Pancing keramatku dibawa Mbah Siwon,” bisik Bush. Gelisah.
“Mikirin pancingmu, ini badanku kerasa masuk angin!” sergah Dirman.
“Aku juga kedinginan, peluk dong….” ujar Butun sambil mendekatkan diri ke tubuh Jumak.
Idiuuhhh…!”
“Apes benar kita, gara-gara Jumak ini!”
“Kok aku? Bush itu!”
“Kok aku? Pancingku malah dibawa, gimana cara memintanya ya?”
Suara kasak-kusuk mereka meratapi keapesan itu seketika punah saat deheman yang amat mereka kenal menyelinap ke telinga mereka dari balik pintu masjid yang menuju ke kamar itu.
“Kanapa basah-basahan semua?” Mata Kak Syaikho mengamati mereka satu-persatu.
“Anu, Kak….”
“Ini, Kak…”
“Itu tadi, Kak….”
“Anu, ini, itu, ada apa ini?” Kak Syaikho berdiri di depan mereka yang duduk meringkuk berjejer bak pesakitan. “Berantem lagi?”
“Tidak, Kak, kami akur selalu kok,” jawab Dirman.
“Tadi cuma main hujan-hujanan aja kok, Kak,” sahut Jumak.
“Iya, Kak.”
“Benar.”
“Betul.”
“Hujan?” Kening Kak Syaikho berkerut. Sedari tadi ia tak pergi kemana-mana, hanya di rumah, perasaan tak ada hujan. Lagian ini musim kemarau, mana ada hujan? “Di mana ada hujan?” tanya Kak Syaikho kemudian.
“Di sana….”
“Di sini….”
“Yang benar jawabnya!” Kali ini suara Kak Syaikho mulai meninggi. Kesal.
Dirman perlahan bangkit, lalu berkata, “Gini, Kak, si Bush ini kan dari Nyabakan, dia orang sakti, Kak. Kak Syaikho kan dengar sendiri dia punya pancing sakti. Masih trah Pangeran Gunong Naknong Beto Kalettak yang sakti. Nah, tadi dia merapal manteranya menurunkan hujan di sini, Kak. Jadi kami kebasahan. Begitu, Kak, ceritanya, benar, Kak, suer deh, Kak, sumpah pake bingit deh, Kak….”
Kak Syaikho hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar cerita itu, yang dikuatkan oleh Bush, Butun, dan Jumak dengan sumpah-sumpah segala.
“Sakti, sakumu putih!” rutuk Kak Syaikho sambil berlalu.
Setelah Kak Syaikho menghilang, mereka saling bertos. Yes! Selamat! Merasa telah berhasil meloloskan diri dari amarah Kak Syaikho.
“Hebat kamu, Dir….” kata Butun.
“Kamu layak jadi novelis! Ikutan Kampus Fiksi aja, Dir…” sahut Jumak.
“Aku memang sakti kok,” ujar Bush datar sambil mengelus lengan dan betisnya yang beset-beset.
“Sakumu putih!” sergah Dirman, Butun, dan Jumak serentak sambil terkekeh.
“Assalamu’alaikum….”
Sontak mereka kembali menjatuhkan badan dalam posisi jongkok dan gemetar. Kak Syaikho lagi!
“Wa’alaikum salam….” sahut mereka serempak.
Kak Syaikho menatap mereka, “Maafin aku ya, tadi memarahi kalian….”
“Iya, Kak, sama-sama….” jawab mereka serempak lagi.
“Assalamu’alaikum….” Kak Syaikho lalu pergi.
“Wa’alaikum salam….” jawab mereka serempak lagi.
Mereka bergerak berdiri tanpa suara kali ini. Tiba-tiba sebuah suara terdengar lagi. Membuat mereka kembali terduduk jongkok seperti semula. Kak Syaikho lagi!
“Kapan-kapan kalau kolam ikannya sudah kuisi ikan, kalian kuajak mancing ya. Kemarin habis kupanen, ikannya lagi kosong, paling hanya ada sisa 1 atau 2 ekor saja.”
Mereka saling tatap. Hanya bisa menatap.

To be continued.
3 Komentar untuk "BAB 3 NOVEL #JAMASBON: “PANCING SAKTI UNTUK MAKAN ENAK”"

Back To Top