Personal Blog

ANALISIS CERPEN “TORU-TORU BOZU” KARYA RAFANDHA (CERPEN TERBAIK LOMBA #JAPANINLOVE)


#JapanInLove adalah sebuah lomba mengarang cerpen berlatar Jepang yang digelar hanya 10 hari (tanggal 20-30 Maret 2013) oleh DIVA Press. Saya sendiri menjadi jurinya. Berdua dengan penyair Mas Toan Achmad Muchlis Amrin, si ahli puasa Daud, suami Nyai Zizi, ayah gus Fawa. Tahu berapa naskah cerpen yang harus saya seleksi? Lebih dari 700 cerpen!
Saya menilai dan memutuskan cerpen yang “layak terbit” hanya dalam 9 hari! Gimana cara menjurinya? Jangan-jangan....aiihhh...trektekdungcess... (sorry, saya menulis analisis cerpen ini sambil dengerin lagu dangdut koplo Tak Tunggu Balimu di-repeat permanen!)
Oke, tentu subyektivitas ada. Iya dong, saya kan masih hidup, berpikir, berempati, niscaya saya nggak bakal pernah bisa memisahkan diri dari subyektivitas. Tetapi, saya sengaja menulis anlsisis cerpen ini supaya jadi pengetahuan buat semua peserta lomba-lomba DIVA Press yang telah dan atau akan diadakan bagaimana cara saya melakukan penilaian.

Maafkanlah wahai sayangku...terpaksa meninggalkanmu...hookk hookk
Aku tak membenci dirimu dan melepaskan cintamu...
Kau tahu diriku kutahu dirimu... #jare sopo...traktakdesss...

#Enakbangetsumpahkoplonya!

Oke, lanjut!

Bayangkan, membaca 700-an cerpen dalam 9 hari? Saya melakukannya dengan cara saya sendiri!
Pertama, setiap cerpen yang pada paragraf pertamanya saja sudah amburadul teknik, kalimat pembuka, bertele-tele, typo seabrek, tanpa ampun saya buang! Nggak perlu lagi deh baca ke halaman kedua, apalagi sampai habis, hanya buang-buang waktu. Penulis yang ginian pastilah kemampuan tekniknya masih rendah atau tipe penulis yang abai terhadap detail dan tidak membaca ulang karyanya! Yang ginian nggak bakal jadi penulis keren!
Kedua, cerpen-cerpen yang berhasil lolos halaman pertama, saya lanjutkan baca. Jika saya menemukan keganjilan teknik atau logika cerita, saya toleransi sehalaman lagi. Jika tidak berhasil dijawab keganjilan itu, saya buat pesawat-pesawatan kertas dong! Mengapa cuma sehalaman? Bisa saja kan jawabannya ada di halaman sekian? Oke, ini cerpen, cerpen, cerpennnnn atuuhh, yang terbatas halamannya, bukan novel!
Ketiga, yang berhasil lolos seleksi awal ini, saya cermati kekuatan logika ceritanya. Betapa seabrek yang nggak penting benar menjadikan alur tabrakan-tabrakan sebagai logika cerita ketemuan cowok dan cewek. Hadeehh, kalau benar di alam nyata ini gara-gara tabrakan orang lalu mudah dapat pacar, pastilah para jomblo akurat yang anyep seanyep-anyepnya sejak lahir itu sudah menabrakkan diri dari lama kali. Jika pengen dapat pacar bermobil, tentu cukup menabrakkan diri pada mobil dong! Jika pengen dapat suami sopir truk molen kayak cita-cita @AvifahVe, ya cukup menabrakkan diri ke trukj molen to.
Keempat, saya cermati “kekuatan latarnya”. Bagaimana pun, tema lomba ini adalah #JapanInLove, tentu bau Jepangnya harus kerasa tengik banget kan. Bukan cuma sok beraroma Jepang. Ini sekaligus membedakan antara penulis yang doyan menggali data dan tidak. Yang mikir tentang Sakura dan Hanami seabrek, otomatis kompetisinya sangat keras. Kenapa nggak mikir yang lain, yang juga Jepang, kayak Teru-Teru Bozu Rafandha ini? Unik, segar! Atau, kenapa juga nggak mikir untuk menuliskan ide Miwon, Ajinomoto, Rinso, Kroto gitu sih?
Begitulah saya menilai dengan cepat. Pasti, metode saya debatable secara ilmiah, tapi saya sih asyik-asyik aja atuh, bodoh teuing atuh mah, toh saya yang jadi jurinya kan. At least, saya punya metode tertentu, dan inilah hasilnya!

Mengapa Teru-Teru Bozu Kupilih sebagai yang Terbaik?

Opo wes tego sliramu
Misahke roso tresno…

#Asyiiikkk…trak-trak…


Beberapa “kecerdasan penulis” dalam cerpen Teru-Teru Bozu Rafandha yang saya catatkan di sini:
Pertama, pilihan idenya genius! Saat orang berpikir bahwa Jepang adalah tentang Sakura, Hanami, Tokyo, Kyoto, salju, Kagawa, Miyabi (hoo...oohhh), Rafandha sangat genius memilih Teru-Teru Bozu (boneka penangkal hujan menurut kepercayaan masyarakat Jepang, yang bila dipasang terbalik,  dipercaya dapat menurunkan hujan). Nggak pasaran! Nggak expired! Unik, segar, nyeleneh, no mainstream, dan itulah memang ciri penulis cerdas!
Kedua, kalimat pembukanya sangat tidak bertele-tele, sok puisiwanisme J, tetapi langsung menohok, menusuk, menghunjam, menjleb, menerjang, menghantam, menerkam, mengiris, menginternalisasi, mengintercourse rasa penasaran pembacanya.
Simak ini:

“Itu… teru-teru bozu, kan?”
“Ya.”
“Kenapa dipasang terbalik?”
“Biar hujan.”

Sangat menggoda rasa ingin tahu! Bandingkan dengan kalimat pembuka kajol sejenis gini:

Vivi, my honey, ahhhhh…
Betapa matahari adalah pusat cahaya yang begitu agung bernama matahari. Begitu pun cintaku padamu yang menyimpan matahari agung di dalamnya, sedalam kusimpan rahasia hidupku bahwa aku adalah tukang tukar sandal di masjid setiap shalat Jum’at….

Opo iki, opo iki, ikiii opoooooo!!! Cerpen kok ngene iki, opo iki opo ikiiii…. #gemes!
Ketiga, kekuatan setting Jepang yang sangat lebur. Fusion of horizons (istilah tokoh Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer) antara Rafandha selaku penulis yang orang Palembang (kutahu kok Bim, kamu tinggal di desa pula! J), yang Jakarta aja kagak pernah tahu, apalagi Jepang, dengan penggalian data kultur Jepang yang serius menghasilkan “kawinan” yang benar-benar beranak taste Jepang!
Keempat, alur cerita begitu mengalir sedemikian enaknya untuk dicicip oleh siapa pun pembacanya, dengan latar pengetahuan macam apa pun. Anak SD pasti juga paham baca cerpen ini. Apalagi anak tua yang kelakuannya masih bocah SD, kayak @DenmasTono @DebbyNiken @rezanufa @srangga2 @RiriAlie @endikooeswoyo, pasti pahaammmm!
Jangan membayangkan bahwa alur ceritanya lantas begitu landai sehingga enak banget dibaca. Tidak! Kekuatan utama cerpen ini justru bukan ada di situ, tapi bagaimana Rafandha menyelipkan suspensi-suspensi yang mengejutkan, layaknya keperkasaan VR46 melipat Pedrosa dan Marquez di Losail Qatar kemarin (coba kalau Lorenzo nggak penakut lari duluan gitu, pasti dilibas juga dia atuh). Liat Lorenzo ngacir sejak pertama, apa coba gregetnya? Garing! Tapi coba lihat Rossi yang penuh suspense, subhanallah atuh kan gregetnya, passion-nya, gaharnya di dada! Ya, itulah beda Rossi ma yang lain atuh
Kejutan, sentakan, begitu tubi hadir di antara aliran cerita yang lancar. Dan tentu, untuk bisa melakukan ini, diperlukan kekuatan teknik, kematangan ide, dan pembacaan berulang-ulang untuk memperdalam ide dan mengoreksi kelemahan-kelamahan. So, nggak bosen-bosen kan saya selalu ngomong (jika ngeyel tentu perlu pake terapi diacuhin deh) bahwa SANGAT PENTING untuk mendinginkan dulu karyamu, mendiamkan dulu beberapa jenak, lalu membaca ulang dan ulang lagi karyamu. Jangan gragas begitu jadi main send and send, wah itu pasti banyak boroknya!
Simak ini:

Gadis itu sepertinya sudah selesai melakukan tugasnya. Ia langsung saja berlari kecil menjauhiku.
Aku menatap boneka teru-teru bozu yang dipasangnya di pohon itu.
Boneka itu…
Memasang ekspresi sedih.

Lalu:

“Karena...karena hanya setelah hujan aku bisa bahagia,” ujarnya pelan.
Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seperti akan ada air yang jatuh dari sudut matanya.
“Maksudmu?”
“Aku harus pergi.” Ia bangkit dari tempatnya duduk, lalu langsung pergi.
Lagi-lagi, aku berujar dalam hati, apa yang membuatnya demikian?


Kelima, pesan moral. Tentu, subyektivitas penulis menghasratkan penyampaian pesan moral dalam karya, termasuk dalam Teru-Teru Bozu ini. Pesan moral apa pun silakan, itu subyektif. Tapi yang penting, penulis tidak perlu menjadi ustadz dalam karyanya, jadi juru khutbah. Dan Teru-Teru Bozu berhasil melakukannya dengan sangat piawai. Tanpa sadar, begitu smooth, pembaca terasuki oleh pesan moral Rafandha, dan di sinilah bedanya karya fiksi dengan non-fiksi. Sebuah karya fiksi yang tidak hanya mengusung kisah, tapi juga inspirasi yang smooth dan bermanfaat bagi pembacanya.
Keenam, pemecahan konflik. Yang menarik lagi dari Teru-Teru Bozu ini ialah alur adegan saat si “aku” memecahkan masalah utama (konflik tokoh) si gadis itu dengan cara yang sangat alamiah, logis, kreatif. Di akhir analisis ini, saya sertakan cerpen utuhnya untuk Anda baca sebagai pembuktinya.
Ketujuh, kecerdasan ending. Teru-Teru Bozu begitu hebat dalam mengakhiri ceritanya. Benar, dikisahkan juga si tokoh ini saling jatuh cinta. Tapi tidak disajikan dengan klise dan pasaran.
Itulah hasil analisis saya, boleh setuju boleh tidak: kuharap dirimu mengerti diriku tak mungkin kita terus begini…traktakdesss…
Kekurangan cerpen Teru-Teru Bozu Rafandha sudah saya emailkan langsung ke penulisnya. Itu pun hanya menurut saya ya.
Berikut kutipan lengkap cerpen Teru-Teru Bozu Rafandha:


Teru-Teru Bozu
Rafandha

“Itu… teru-teru bozu, kan?”
“Ya.”
“Kenapa dipasang terbalik?”
“Biar hujan.”

***

Komaba-Todaime, Meguro, Tokyo
Fuyu, 35oC
            Aku mengayuh sepedaku secepat angin ke Komabano Park. Udara musim panas di Tokyo sangat menyengat hari ini. Di saat orang Jepang yang lainnya berbondong-bondong menuju pantai, aku lebih memilih ke sungai Meguro di Komabano Park.
Komabano Park sendiri jadi tempat magis bagiku. Pertama kali aku ke Tokyo, hal yang menggelitikku adalah gerbang taman ini. Gerbang Komabano Park terdiri atas dua bagian. Sebelah kanan dan kiri. Di gerbang sebelah kanan, dibuat bentuk padi-padi yang sedang berkembang dan burung-burung yang beterbangan. Sedangkan sisi sebelah kirinya, padi-padi tersebut masih ada, namun terdapat kakashi yang berdiri tegak. Jadi bila digabungkan, gerbang itu seperti replika sawah.
Komabano Park tampak lengang dan aku pun mempercepat langkah. Suasana Komabano Park tak ubahnya sebuah taman tanpa rimbun pepohonan. Pohon-pohon sakura sudah gugur sejak akhir musim semi lalu.
            Lama aku mengayuh sepeda. Aku tertarik pada satu sosok yang tampak sedang berusaha meraih cabang pohon Sakura di pinggir Sungai Meguro. Penasaran, aku menghampirinya.
“Itu… teru-teru bozu, kan?” aku bertanya ketika melihat satu boneka putih di kepalan tangannya yang mungil.
Dia menoleh menghadapku sekilas, lalu kembali ke posisinya semula.
Aku mendadak diam melihat apa yang dilakukannya. Tali yang menggantung di teru-teru bozu itu berada pada posisi tidak biasa.
 “Kenapa dipasang terbalik?” tanyaku heran setelah memastikan apa yang aku lihat itu benar.
“Biar hujan,” jawabnya pendek.
Aku mengerenyitkan dahi, menatap gadis di hadapanku yang sedang menggantungkan boneka berkepala gundul itu di sebuah pohon sakura di Komabano Park. Setahuku, orang-orang Jepang sangat membenci hujan. Sama sepertiku. Kebanyakan orang-orang Jepang mengutuk butir-butir air itu.
“Kau suka hujan?” aku bertanya heran.
Gadis itu menggeleng. “Iie,” ujarnya sambil berusaha mengikatkan simpul pada pohon itu.
Aku hanya mengamati parasnya. Yang paling membuatku terkesan adalah potongan rambutnya yang dibuat pendek model bob dengan poni yang lurus menutupi keningnya dan pipinya yang membuatku gemas setengah mati: seperti mochi.
“Jadi?”
Gadis itu sepertinya sudah selesai melakukan tugasnya. Ia langsung saja berlari kecil menjauhiku.
Aku menatap boneka teru-teru bozu yang dipasangnya di pohon itu.
Boneka itu…
Memasang ekspresi sedih.

***

“Masih memasang itu?”
Aku melihat gadis itu pada hari berikutnya. Ia memakai kimono musim panas atau yukata berwarna merah muda, berdiri di depan pohon sakura yang sudah meranggas. Kemarin, hari sangat cerah, bahkan cenderung panas. Jadi dapat disimpulkan, teru-teru bozu-nya tidak berhasil kemarin.
“Seperti yang kau lihat,” ujarnya sambil mengangkat bahu.
Aku lantas mendekat padanya, membantunya mengaitkan boneka itu ke pohon. “Tsuyu baru saja berakhir dua minggu lalu di Tokyo. Dan, kau pikir hujan akan turun?”
Ia melirikku sekilas. “Apa salahnya berharap?” ia berkata santai.
“Memang sih. Tapi, harapan kadang membuatmu buta. Tidak berpikir realistis,” sanggahku menjawab pertanyaan darinya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya. Aku pun tidak berusaha untuk membuka percakapan.
Arigatō gozaimasu,” ucapnya sambil membungkuk.
Aku tersenyum kecil. “Dō itashimashite.”
Dia kemudian duduk di rerumputan. Aku pun mengikutinya.
“Buat apa melakukan ini?” aku bertanya sambil mengerenyitkan dahi.
Dia menoleh menatapku. Rambutnya melayang dengan sempurna diterpa embusan angin.
“Melakukan apa?” tanyanya balik sambil mengerlingkan matanya.
“Kau bilang tidak suka hujan, mengapa kau malah ingin hujan turun?”
Sungguh aneh konsep yang ada di kepalaku. Bagaimana bisa orang yang tidak menyukai sesuatu, tapi mengharuskan sesuatu itu hadir.
Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Seperti memikirkan sesuatu.
“Karena...karena hanya setelah hujan aku bisa bahagia,” ujarnya pelan.
Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seperti akan ada air yang jatuh dari sudut matanya.
“Maksudmu?”
“Aku harus pergi.” Ia bangkit dari tempatnya duduk, lalu langsung pergi.
Lagi-lagi, aku berujar dalam hati, apa yang membuatnya demikian?

***

Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
Aku mengamati butir-butir air itu dari balik jendela kamarku. Aku tidak suka hujan. Hujan melambatkan semua hal, termasuk waktu. Aku akhirnya lebih memilih mengambil game portabel dari lemari sambil menyetel lagu AKB 48– Gomen-ne Summer.
Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
Mendadak aroma hujan mengingatkanku pada gadis itu. Pastilah saat ini ia sedang tersenyum bahagia melihat teru-teru bozu­-nya berhasil. Atau, mungkin saat ini ia sedang menari-nari di bawah hujan? Ataukah ia lebih memilih meringkuk di kasur, mengenakan selimut tebal, lalu memainkan game portabel sepertiku?
Pikiran-pikiranku tentangnya membayang seiring turunnya hujan. Yang jelas, pastilah ia sedang bahagia sekarang.
Tunggu, mengapa aku memikirkan gadis itu?

***

Rasa penasaran membawaku kembali ke Komabano Park keesokan harinya. Entah mengapa aku mengharapkan sosok gadis itu datang.
Dan sesuai perkiraanku, gadis itu memang ada. Di tempat yang sama dua hari lalu.
“Mengapa datang lagi?” tanyaku heran. Kemarin hujan, seharusnya ia tidak datang ke sini lagi untuk memasangkan boneka itu.
“Kemarin, tidak ada dia,” ujarnya tanpa ekspresi. Ia hanya memandang lurus ke depan.
“Dia?”
Hai.”
Aku semakin tidak mengerti. Dia? Siapa dia? Mendadak, ada yang meledak-ledak di ulu hatiku. Namun entah. Aku tidak bisa mendeskripsikannya.
“Maksudmu?” aku bertanya lagi. Penasaran.
Pernah merasakan ketika kau bertanya sesuatu dan kau mengharapkan jawaban darinya, sementara di sisi lainnya kau malah tidak ingin mendengarnya?
Aku sukar mengatakannya. Tapi yang jelas, begitu keadaanku saat ini.
Niji ga arimasen.”
“Eh?”
“Kemarin, tidak ada pelangi.”
Aku merasakan ledakan-ledakan tadi langsung diguyur air es dingin.
“Kau..., selama ini...hanya pelangi?” Aku berusaha menenangkan perasaanku sendiri.
“Ya, pelangi.”
“Hanya pelangi? Kau mengharapkan sesuatu yang sama sekali tidak kau suka hanya untuk melihat pelangi?”
Dia menatapku tajam.
Jangan kau pikir segalanya semudah yang kau bayangkan,” bentaknya keras.
Ia mulai bangkit dari tempat kami duduk, lalu beranjak pergi. Aku pun langsung menahannya.
“Kenapa?” tanyaku pelan, merasa bersalah.
Aku membalikkan badannya.
Ia...menangis?
Gomen nasai,” ucapku.
Ia menyapu air mata dari pipinya. “Daijōbu desu.”
“Kau tahu, perempuan itu adalah orang yang paling susah dalam menyembunyikan perasaannya. Dan jika kau berkata kau baik-baik saja, aku tidak melihatnya demikian.” Aku menarik napas panjang. “Kau...kenapa?” tanyaku hati-hati.
Aku mengajaknya kembali duduk. Namun saat ini, kepalanya menyandar di pundakku.
Okaa-san bilang, pelangi adalah jalan menuju surga,” ia membuka ceritanya, “saat kau tidak ada lagi di dunia ini, kau akan menjelma jadi satu dari warna pelangi itu.”
Aku mengangguk paham. Aku pernah dengar tentang mitos itu dari ibuku ketika aku kecil.
Okaa-san bilang, kita bisa menemui orang-orang yang tidak ada itu saat datang pelangi. Dan itu yang sedang aku lakukan sekarang. Aku...sedang berusaha bertemu Okaa-san.
“Dia?”
“Meninggal, dua minggu lalu. Saat tsuyu. Hujan-hujan. Ia...tertabrak truk.”
Aku bisa melihat air mata yang jatuh dari sudut matanya. Refleks, aku menyekanya dengan tangan kananku.
“Maka dari itu..., aku selalu ingin bertemu dengannya lagi. Aku...hanya ingin melihatnya lagi,” ujarnya sesengukkan.
Aku mendekapnya erat, tidak bisa berkata apa-apa. Dalam diam, aku berbicara.
“Menangislah. Buat apa berpura-pura kuat? Menangislah karena memang kau ingin menangis. Itu akan membuatmu lebih baik,” aku berujar sambil mengusap-usap kepalanya.
Dan, ia menangis.
Dan, itu adalah nyanyian paling pilu dalam hidupku.

***

Pompa angin dan kaca.
Aku memasukkan barang-barang itu ke dalam tas selempang yang kukenakan, lalu mengayuh sepeda ke Komabano Park.
Dia pasti masih di sana.
Pasti.

***

“Sudah kuduga, kau akan datang kembali ke sini,” aku berujar ketika melihat gadis itu.
Tidak ada yang berubah darinya. Masih tanpa ekspresi. Masih tanpa senyum. Masih...sedih.
“Ayo ikut aku sebentar.” Aku menarik tangannya ke sisi Sungai Meguro.
Sensasi dingin langsung menyambar ke kaki kami berdua ketika aliran sungai memecah di kaki.
“Duduk di sini,” perintahku sambil menunjuk satu tempat di pinggir sungai itu.
Kukeluarkan alat-alat yang sedari tadi ada di tas selempangku. Pompa air dan kaca.
Aku menaruh kaca di sisi lain sungai. Sinar matahari langsung terpantul mengikuti aliran sungai. Yang kedua, aku ambil pompa angin dari tasku lalu mulai mengisinya dengan air Sungai Meguro.
Semoga berhasil, aku berdoa dalam hati sambil mengarahkan pompa itu ke sinar matahari yang dipantulkan oleh kaca.
Gadis itu menatapku heran, namun aku tidak peduli.
“Kau tahu, aku pernah merasakan kehilangan. Ayahku, beberapa tahun lalu. Aku memang sedih, sungguh. Seolah-olah semua jadi hancur berantakan. Sama sepertimu.”
Aku kemudian menyemburkan air dari pompa yang ada. Butir-butir air itu langsung saja menimpa sinar matahari, membentuk spektrum-spektrum warna-warni: pelangi.
Ia tampak terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku bisa melihat ia sesenggukan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku hanya ingin kau tahu, kebahagiaan itu diciptakan. Bukan menunggu dengan sendirinya. Kebahagiaan itu ada dalam diri setiap orang. Bukan bergantung pada hal lainnya,” jelasku panjang lebar.
“Kini, kau tidak perlu menunggu hujan terlebih dahulu, baru kau bisa melihatnya. Kau tidak perlu lagi berpura-pura menunggu hal yang sama sekali tidak kau sukai untuk melihat hal yang kau suka. Kau hanya perlu terbuka, untuk melihat sekelilingmu. Melihat kebahagiaan di sekitarmu.”
“Dan, jika kau sudah bisa melakukan itu, kau akan bahagia,” tutupku.
Aku melihat ia menunduk. Dan perlahan, air mata turun dari pipinya.
Kami berdua membisu. Aku pun menghampirinya.
Arigatō gozaimasu. Terima kasih sudah membuatku sadar,” ujarnya sambil mengusap air mata di pipinya. Ia kemudian menegakkan kepalanya, lalu tersenyum.
Melihat itu, aku ikut tersenyum. Dadaku mendadak bergetar hebat. Ada perasaan seolah-olah ketika melihat senyumannya, semua hal indah di dunia ini kalah akan kehadirannya. Keindahan yang melebihi seribu pohon sakura yang bermekaran serentak.
“Siapa namamu?” tanyaku gugup. Entah apa yang aku gugupkan. Aku hanya merasa...
...gugup.
“Mit...Mitsuko Ka..Katone,” ia menjawab terbatas-bata. Seketika mukanya bersemu merah seperti buah plum.
Aku tertawa geli melihatnya seperti itu. “Aku tahu mengapa kau tidak suka hujan,” ucapku padanya.
“Katamu pertama kali, semua orang Jepang membenci hujan,” ujarnya yang mulai berani menatapku.
“Berbeda kasus denganmu. Mitsuko berarti cerah. Kau pasti benci hujan,aku berkata sambil tersenyum lebar.
“Dan...memang benar…. Suaramu sangat indah seperti kotone. Alunan harpa,” lanjutku.
Ia tampak salah tingkah aku puji seperti itu. Aku bahkan heran sendiri, dari mana kata-kata itu keluar. Mengapa aku mendadak romantis? Tunggu, romantis?
“Namamu?” tanyanya balik kepadaku.
“Hisashi Masaki.”
“Cocok.”
“Eh?”
“Kau memang seperti kayu besar. Tempat semua orang bersandar.” Ia mengerlingkan matanya yang bulat dan teduh itu.
Kali ini, giliranku yang salah tingkah. Untuk mengisi kekosongan, aku mengambil teru-teru bozu itu dari tangannya. Ia tampak heran dengan apa yang aku lakukan, namun ia biarkan.
Aku mengambil spidol dari tas selempang yang kubawa, lalu kucoretkan sebuah lengkung ke atas di bawah gambar hidung yang dibuatnya.
Ia mengerenyitkan dahi. Heran. Namun, aku tetap tidak peduli.
Setelah selesai, aku pun lantas menggantungkannya pada pohon sakura di belakang kami.
“Aku harap besok cerah,” kataku pelan.
Ia tampaknya mendengar apa yang aku ucapkan, lalu tersenyum kecil.
Semoga tidak ada lagi hujan di matanya, aku merapalkan harapan-harapanku.
Setelah memasangkannya ke atas pohon, aku berbalik menatap Mitsuko-san, lalu menggenggam tangannya.
“Mitsuko-san, besok, maukah kau berkencan denganku?”

*) Cerpen ini sebenarnya memiliki beberapa footnote, tapi tidak saya sertakan.
58 Komentar untuk "ANALISIS CERPEN “TORU-TORU BOZU” KARYA RAFANDHA (CERPEN TERBAIK LOMBA #JAPANINLOVE)"

Waw that's a great story...seperti kata CEO edy lion cerita tera tera bozu nonmainstream... tentu saja juri yang memilihnya sangat teliti... keren...
bisa minta bantuan komen di cerpen saya tidak?
saya pengen belajar menjadi hebat. dan belajar sendiri tanpa arahan itu berat. sapa tahu masukan dari pak CEO bisa membantu saya agar lebih berkembang. terimakasih atas perhatiannya.

http://www.facebook.com/notes/adhie-ilham-sarwono/gadis-bisu-dibawah-sakura/10151397993462775

Keren banget cerpennya, Pak.
Jadi kebawa suasana...^^
Wajar banget deh, kalau jadi yang terbaik...^^

pantas terpilih jadi terbaik :)
tapi masih ada sedikit typo tentang tanda baca dan elipsis, soal jalan cerita jangan ditanya lagi. Memang kereeenn... sugoi :D
Cerpenku kalah total, hehehe...

betull,,, kerenn bangett.. Salut..
selamat ya Rafandha :D

saya rasa kalau dibilang tema teru-teru bozu itu JENIUS, berlebihan deh... boneka itu sering muncul kok..di serial ikyu-san dlu di RCTI...di salah satu drama yang juga populer diputar di indoesian judulnya teru-teru bozu juga... jadi jenius?uhm..gak deh ya

si rafanda juga gak dalam soal teru-teru bozu, boneka itu sebenarnya menyimpan misteri horror.

anyway.cara bercerita dia bagus..

bener-bener WOW !!
nggak buat bosan, alurnya pas, mengalir gitu aja, waktu baca serasa menyatu dgn critanya... n pastinya, JEPANG BANGET!! Keren keren! ^^
selamat yah!

gila !! kebawa suasana, berasa lliat jepang dari cerpen ini :D
ngga heran jadi yang terbaik :D

keren :) tapi sayang terakhirnya bikin jleb a jleb ajleb euy.. Masa langsung megang tangan dan ngajak berkencan ... woles aja padahal, ehehe. tapi secara keseluruhan percaya aja deh ama juri cerpennya emang pantas juara :)

cara bercerita bagus dan dari segi ide lumayan gak mainstream.
at least, saya sdh baca beberapa cerpen yg mengangkat tema teru-teru bozu... cuma beberapa kok, woles aja :)

tapi Gomen ne, SUMMER itu lagu asli dari SKE48 kak Rafandha~~~ meskipun termasuk 48family tetap aja penyanyi aslinya SKE48 bukan AKB48 :)

kenapa Mitsuko memanggil okaa-san? kenapa bukan Haha? Ibu siapa sih yang sebenarnya tertabrak truk? Ibunya Mitsuko sendiri apa bukan sih? kalo bukan ibu kandung... kenapa harus sesedih itu kak Rafandha?

fuyu itu musim dingin... apa bukan ya? kok bisa suhunya sampe sepanas 35celcius... musim panas itu bahasa jepunnya natsu bukan sih? :v

gw bukan penulis handal ataupun kritikus handal dan juga tidak ikut lomba ini, tapi hanya sekedar fans dari diva press (like di facebook maksudnya), hanya senang membaca. Tapi menurutku penilaian akan cerpen ini berlebihan deh(disamping yang bagusnya udah diceritakan) gw ingin :
1. KOndisi taman... itu digantung di taman... tapi kesannya kek ga ada orang lain....kosong melompong, suasana tamannya tidak terasa. Apalagi dia gantung teru-teru bozu di pohon sakura? negara sekelas jepang.....dah pasti petugasnya bakal turunin (gw anggap dia memasang di tempat jalan umum, karena tokoh utama berhasil melihat dia karena kebetulan lewat sana jadi bukan di tempat tersembunyi)
oklah bisa diakali dianggap dia tiap hari pasang yang baru ... tanpa ditegur petugas taman (bagian kedua disebutkan memasang kembali sih)

2. Kurang ada rasa deg - deg romance, ataupun mungkin istilah e doki doki suru... kisahnya simpel ini pemuda ketemu cewek... terus penasaran... dan akhirnya bantu dia kasih liat pelangi...thats all

3. Kesannya si cewek ga ada temen aja.... dan cepet banget akrab dengan si cowok hanya dari 2-3 kali pertemuan... dah dekap2an (itupun mereka tidak ngorbol sesuatu) hahaha....gampangan donk #plakkkk

belum lagi kesannya ini cewek gampang banget ngungkapin alasannya...dan percaya sama si cowok

4. Karakter tiap chara .... gw ga mendapatkannya sama sekali kecuali ya itu sifat si cewek yang gampang banget meluapkan masalahnya pada orang lain (yang hanya ketemu beberapa kali), sedang si cowok? gampang jatuh cinta...ya ok cinta datang ga jelas tau2 nongol sih :D

That's a good short story. Meski pun memang terdapat beberapa kekurangan. Tapi, belum tentu juga kan Cerpen yang lain lebih bagus daripada punyanya Rafandha. Setiap karya pasti ada plus minus nya lah.

Buat Rafandha, keep writing yoo.... :)
GOOD JOB

kasih masukan aja ya, bukan kritikan :)

kimono atau yukata ??? dua pakaian yg berdeda.
fuyu juga musim dingin, bukan musim panas.
kisah boneka hujan itu juga banyak misterinya.

itu seperti kesalahan mengaku2 ke jepang2 an juga ya..


btw ceritanya mengalir, selamat ya rafandha.

kereeeeeeeeeeeeeeeen (y) sukasukasuka. Pengen beli bukunya kalo dah terbit biar kenyang baca

haru itu musim semi, natsu itu musim panas, aki itu musim gugur, fuyu itu musim dingin.
okaasan itu ibu, haha juga ibu. kalo cerita ke orang yang lain apalagi yang belum akrab biasanya pake haha bukan? buat menghormati ibu dan lawan bicara. oh atau mungkin saya yang salah persepsi.
#bukan cuma tempelan sok Jepang

yukata yaa kimono, tapi kimono bukan berarti yukata.
yukata itu kimono versi casualnya.

Wah.. Ini analisis pribadi saya, ya. Saya berani ngaku kalau saya juga salah satu peserta japaninlove, jadi saya ngikutin banget setiap tweet Bapak Edi tentang kriteria cerpen yang dicari. Terus sekarang saya jadi agak 'errrrrr' ngeliat pemenangnya. (Bukan sirik ya. Ini kan cuma share pendapat) :

1. Saya ingat sekali Bapak Edi bilang mau cari cerpen dengan ide yang nggak mainstream. Terus kembali ditegaskan di artikel ini kalau menurut Bapak ide ini anti-mainstream. Tapi kalau coba melihat komen-komen di facebook, di blog ini, dan menurut pengalaman membaca pribadi saya, ini ide udah banyak banget dipakai buat jadi cerita. Udah ada novel yang membahas, udah banyak manga yang ceritanya ngambil dari sini, dll. Nah loh... Apa masih bilang anti mainstream dan original banget? Sebenarnya standar anti-mainstream dan originalnya setingkat apa yaaaa?

2. Dulu Bapak juga pernah bilang kalau Bapak nyari yang benar-benar rajin cari informasi, benar-benar mengeksplor 'Jepang'nya dan bukan asal Jepang tempelan aja. Sementara saya banyak banget baca komen-komen dari ahli-ahli Jejepangan yang bilang kalau infonya banyak yang salah. Di fb bilang masalah teru teru bozu nya aja ada yang agak salah, fuyu yang ternyata musim dingin, dan (mungkin) ada kesalahan lain.

Kalau di logika saya sih, Pak. Saya terus bertanya-tanya. Ini kenapa? Lah katanya begini kok yang dimenangin begitu.
Saya sih mengakui kalau ceritanya bagus, ngalir, tapi toh juri sendiri yang bilang bahwa pertimbangannya nggak cuma alur, tapi juga pencarian informasi.

Ya kalau saran saya sih lain kali diperjelas lagi yang dicari juri itu cerpen seperti apa. Jadi pas hasilnya keluar, ga ada yang responnya 'loh ini kan seperti novel X, katanya anti mainstream.' 'loh kok alurnya juga mirip' 'lah ini mah udah sering atuh dipake' 'wah ini ada salah-salah kata'

Gitu aja sih, Pak. Soalnya kalo yang saya tangkap, Bapak agak terlalu melebih-lebihkan. 'Jenius' is a big word, Pak. This is far from genius, in my opinion.

Itu aja sih kritik dari saya, semoga bisa diambil manfaatnya dan bukan cuma dibaca sebagai 'ah ini orang ngomong begini cuma gara-gara sirik sama yang menang.' Ini logis kok, Pak. Dan bukan cuma menurut saya aja. :)

Regards,
Esteryn.

ceritanya lugas, and anyway karna gua juga ikut event ini, karya gua emang jauh kalah kelas, gua salut sama cerpenis ini, tapi buat lu anonymous2 kayak gua, gua kasih tau, kalo setiap publishing itu punya karakter tersendiri, dan divapress ini kayaknya gak ngedepanin yg puitis2 ala alay gitu (kayak punyanya gua).. so lu semua nyantai aja bro, kagak usah pake emosi, di publishing lain bisa aja kan karya lu diterima.. maybe.
selamat ya buat rafandha :), sukses buat mas edi sama divapress..

Dear another anonymous, gak ada yang emosi kok disini. :) Saya kan cuma menawarkan analisis logis. Saya mengerti kok kalau setiap publishihng punya karakter sendiri, tapi kan bahasan saya (dan bahasan kritikus lain) itu dasarnya dari tuturan juri yang notabene CEO dari penerbitnya.

Yang saya bahas itu kontra antara apa yang dicari juri dan apa outputnya. Hehehe, itu kan dari satu sumber yang sama. Jadi, tolong dibaca lagi yaaaa :)

Kimono atau Yukata? Sebenarnya kedua pakaian itu berbeda loh.... Kimono biasanya dipake di festival (kalo orang kaya beda) Yukata baru dipake di hari santai.
Cerpennya bagus XD Wajar jadi yg terbaik
Tapi menurut saya, taste Jepangnya kurang. Budaya nya kurang. Teru teru bozu termasuk yang mainstream.
Kritik untuk membangun kan? Maaf atas kritikan saya.
Tapi sungguh deh, cerpen ini bagus!

Kakak saya yang ikut lomba ini juga membuat cerita dengan alur yang kurang lebih sama dengan cerpen teru-teru bozu ini, seorang pemuda dan gadis cilik yang bertemu karena suatu budaya jepang dan akhirnya saling jatuh cinta. Bahkan menurut saya gambaran dia tentang jepang jauh lebih realistis dan akurat karena dia menggambarkannya berdasarkan apa yang ia lihat dan alami ketika berada di jepang. Tapi jika dilihat dari ulasan juri di atas, kakak saya mungkin punya kelemahan di paragraf-paragraf pembuka. tapi jika juri mau membaca dua halaman selanjutnya saja, bisa dipastikan juri akan terkesan dengan caranya menghadirkan cerita yang berisi sekaligus menyentuh. Sangat disayangkan cerpen kakak saya yang begitu bagus harus kalah hanya karena paragraf pembukanya yang kurang. Namun itu bisa menjadi bahan pelajaran dia ke depan. Untuk itu, saran saya, jika akan mengadakan lomba cerpen lagi, harap dibatasi satu orang hanya boleh mengirimkan satu cerita agar proses penjurian berlangsung lebih mudah. Terimakasih banyak. Kami tidak sabar menunggu terbitnya buku kumcer ini sebagai motor untuk terus menulis. :)

ide ceritanya bagus.
ada sedikit kesalahan, fuyu (musim dingin), natsu (musim panas)

Jujur saja, bagi pecinta Jepang, Teru-Teru Bozu sebenarnya hal biasa. Boneka pemanggil hujan begitu banyak muncul dalam komik atau anime jepang. Hujan juga termasuk hal mainstream. Tapi dari segi gaya bahasa memang patut lah. Gaya bahasanya bagus, cerdas juga.

sirik....sirik....sirik.....saya peserta japaninlove juga. kalo kalah, trus sirik wajar tho? sakit ati juga kalo ternyata cerpen saya berakhir sebagai pesawat - pesawatan doang, ato malah bungkus kacang ? Pak Akhiles kejujuran deh, bikin putus asa !
Rumah diliat dari depan udah jelek, dalemnya juga jelek, isinya pasti blangsak banget begitu kan Pak? udah bakar aja!! begitu tho pak ?
INGAT: bukan tempelen sok Jepang ya, tapi kudu benar-benar bernapas Jepang. itu yang ada dalam otak saya waktu nulis, kudu Jepang banget. gak boleh cuma nyuplek di permukaan doang, yang mengganggu tuh ya fuyu sama natsu itu, sy jadi rancu antara musim panas sama musim dingin. kimono atau yukata, pilih satu dong! penyebutan okaasan dihadapan orang asing, emm ?!
saya jadi dapat kesan, Bapak Yang Terhormat ini cuma tau Jepang dari permukaanya saja. Padahal kita udah deg deg sir takut seluk beluk Jepang yang kita masukkan salah di mata Bapak.
gomen nasai.....
Hajimemasithe
Yunita

iya, banyak yang nggak logis di cerpen pemenang itu. Dalam cerpen diceritakan musim panas, tapi kok di awal paragraf ada kata Fuyu? Bukankah musim panas itu bahasa jepangnya Natsu? Kalau fuyu mah musim dingin. Memang sih sebelum musim dingin tiba, pasti turun hujan, tapi hanya sebentar setelah itu mulai memasuki musim dingin alias fuyu. Sama sekali nggak logis. Katanya dinilai dari sisi kelogisan setting, tapi kok kayak gini? Saya sama sekali nggak sirik, awalu cerpen saya nggak jadi juara, tapi saya udah sangat bersyukur bisa lolos menjadi kontributor. Tapi mohon penjuriannya diperhatikan kelogisan setting dan cerita. Banyak peserta yang merasa nggak logis banget settingnya.
Gomen nasai kalau ada salah kata :)

haloo haloo...

di TL ku pagi ini (kalo baca) sudah kejelasin ttg kesalahan teknis:
1. ada kesalahan istilah dalam cerpen ini, di antaranya fuyu itu. Rafandha sudah mengirimkan versi revisinya sebelum lomba ditutup. Sayang, saya yang salah memposting cerpen ini (versi lama), ini kesalahan saya atuh...jadi dari penulis sudah merevisinya sebelum lomba ditutup. ok.
2. Selaku juri dalam lomba ini, saya punya dua pilihan sikap: menulis analisis ini atau tidak. Saya bebas milih. Dan saya memutuskan menulis analisis ini dengan sangat mafhum bahwa analisis ini bisa memantik simpatik dan kritik. Ya, namanya wacana, so what? Debatable pasti. Itu sudah saya tulisankan di pengantar analisis ini.
3. Saya juga sudah tuliskan di note ini bahwa cerpen Rafandha ini tidak sepi dari kekurangan. Saya pun sudah tuliskan bahwa semua kekurangan cerpen ini (lagi-lagi menurut saya) sudah saya mailkan ke penulisnya langsung. Mengapa tidak dishare di sini? Tidak, sebab poin utama saya dari analisis ini adalah tuk memantik spirit bagi rafandha dan penulis-penulis muda lainnya.
4. Semua simpatik dan kritik kalian monggo aja atuh, namanya subyektivitas nggak kan pernah sama (misal apalagi udah dipengaruhi kepentingan tertentu, ya misal). Cuma semua itu takkan pernah mengubah keputusan ini, bukan karena saya anti kritik, sebab saya cukup kenyang makan bangku kuliah sampe S-3 sehingga sangat karib dengan diskusi dan debat bahkan, tetapi bahwa saya juri, wasit, dan saya harus memilih dan memutuskan. Saya rasa saya pun tak perlu minta maaf pada siapa pun jika keputusan saya ini tidak melegakan semua pihak, karena sekali lagi thats a discourse, selalu akan ada discontinuity of episteme kata Foucault) dan what is said and the act of saying (kata Ricoeur). Jangankan saya dan Rafandha, Gabriel Garcia Marquez pun dengan novel fenomenalnya tetap aja kaya kritik. So what?
5. Tentang lain-lain, kayak tokoh cewek kok anu ini dll, itu pure discourse-lah. Karena discourse, pastilah setiap kepala kan beda. Seperti kubilang dalam note ini, at least saya punya metode, bukan like or dislike.

Oke, buat saya ini sudah cukup, life must go on, saya berSMS ma Rafandha semalam: penguji sejati sebuah karya adalah publik luas, simparik or kritik adalah bagian mutlak tak terpisahkan, bak dua sisi mata uang yang padu, abaikan yang kamu anggap nggak perlu, ambil yang konstruktif yang menurutmu perlu. Ya, lagi-lagi, menurutmu, Rafandha...
Keep writing ya

oh gitu ya... :)
gomen ne, saya nggak tau kalau cerpennya udah direvisi. Tapi aku suka jalan ceritanya, mengalir, dan ada pesan yang terkandung di dalamnya. Cerpenku kalah jauh, hehehe... perlu belajar lebih banyak lagi tentang menulis. Selamat ya buat Rafandha :)
Keep writing...

Yap. Nulis analisis atau nggak itu kan terserah Bapak, karena Bapak nulis analisis, makanya saya juga nulis analisis.

Wah kalau saya sih jujur ga mau kalo keputusannya berubah, ga perlu dimintain maaf juga, biar apa coba. Hahaha..

Saya yakin yang komen-komen disini juga tujuannya bukan pengen pemenangnya diganti kok, Pak. Kita sih kaget aja karena ternyata penilaian Jepangnya kurang dalam. Kita udah mati-matian loh nyari ide, nyari info supaya gak salah.

Kadang-kadang subyektifitas harus dikurangi sebanyak-banyaknya, Pak. Apalagi kalau mau nyari penulis baru. Atau coba kasih juri penasehat yang ahli dalam temanya? Just saying. Sukses ya buat divapress untuk event-event selanjutna. Sukses juga buat Rafandha yang menang.

Cerita ini sudah bagus. Kalau menurutku.
Hanya saja, mungkin aku belum membaca keseluruhan. jadi, belum terlalu terasa jepangnya.
Teru teru bozu. Idenya juga ga terlalu pasaran walaupun banyak yang telah menggunakan tema ini. Lebih unik daripada tema jepang yang umumnya adalah daun pohon sakura yang berguguran.
Buat yang lain, sabar aja. Setiap orang punya penilaian berbeda. Mungkin juga Rafandha punya pemikiran lain hingga ia menuliskan ceritanya seperti ini. Buat yang komentar, semua orang punya sudut pandang berbeda. Harap maklumi kalau itu sangat berbeda dengan pemikiran kalian. Ending yang susah ditebak, mungkin ini mengapa Rafandha memilih alur cerita seperti ini.
Agak setuju dengan Yunita. Mungkin Pak Edi telah membuat banyak orang putus asa. Aku juga sering melihat tips tips menjadi penulis dari Pak Edi. Mungkin, kalau kata kata Pak Edi terlalu dimasukkin ke hati (?) tak bisa dielak, aku pun putus asa membacanya. Tapi, aku hanya mengambil hal positifnya saja. Untuk Yunita, sifat orang berbeda beda. Mungkin kita juga memiliki sifat yang kurang/tidak disukai orang lain. Jadi, ambil yang menurutmu berkenan saja.
Maaf kalau aku terlalu lancang, ataupun ada kata yang salah/tidak berkenan. *ceeillah bahasanya
Sudahlah segini aja. Makasih buat Pak Edi yang ga pelit kasih tips untuk menjadi penulis^^
Sabar buat yang lain ^^

sebab poin utama saya dari analisis ini adalah tuk memantik spirit bagi rafandha dan penulis-penulis muda lainnya.

rasanya, sakit hati. kata2 bapak diatas begitu menohok. bukannya jadi spirit malah jadi down. dan ya, gak semuanya karya yang bapak anggap sampah itu dan di jadikan pesawat2an akan berakhir di tempat sampah. Pasti akan ada yang menjadi lebih sukses dari pada yang bapak kira..

Ikutan nimbrung ya. Maaf pak ediakhiles. (Spt namanya suka ngeles kayaknya). Jangan pernah liat sesuatu hanya dari awalnya ajah.. konsisten itu penting loh..

Hah... Pesawat terbang... Jadi gitu nasib kertas-kertas peserta lain. Kasihan.
Sumbangin aja ke tukang gorengan sekalian, Pak. Kali-kali ada editor penerbit sekelas GPU yang beii gorengan terus baca cerpen itu. Ya kali seleranya beda sama Bapak...

wah, jadi cerpen yang lain cuman jadi pesawat terbang ? apakah seperti iru ? ckckck
saya setuju banget sama kata-kata diatas "kata2 bapak diatas begitu menohok. bukannya jadi spirit malah jadi down. dan ya, gak semuanya karya yang bapak anggap sampah itu dan di jadikan pesawat2an akan berakhir di tempat sampah. Pasti akan ada yang menjadi lebih sukses dari pada yang bapak kira.. "
kok rasanya malah membuat penulis muda pemula down ya ? bukannya tambah semangat nulis, anda mengaku kenyang makan bangku kuliah sampe S-3, tapi setidaknya mengapa kata kata anda tidak lebih halus, itu terlalu "kasar" dan membuat para penulis muda merasa terletak jauh dibawah ketimbang karya ini

Wah beneran jadi Pesawat pesawatan, Awal sudah Typo langsung masuk tong sampah? "Fuyu, 35oC" ini berada di awal, jadi inget poin ke3 tentang logika.. saya rasa ini bukan hanya Typo bahkan tidak masuk logika. Musim Dingin apa yang 35oC -__-" bener kata temen temen yang ikut mungkin bapak edi yang harus lebih memperdalam pengetahuan jepangnya.. kasian mereka yang benar benar mencari info agar "JEPANG BAGET". seperti kata bapak diawal saja udah gak masuk logika jadi saya gak terusin baca.. gak tau deh ceritanya kayak apaan tuh "Teru-Teru Bozu". Saya taunya itu boneka boneka pencegah hujan.

Wahhh bapaknya udah kenyang makan bangku S3 >.< tapi masih bisa salah mosting LOL.
Harusnya lebih teliti lagi dalam menilai pak... Saya aja yang ambil sastra jepang gak bisa terima kesalahan seperti itu... belajar kebudayaan jepang itu susah loh, sayangnya saya gak ikut lomba ini tapi kalau ikutpun saya rasa saya tidak akan menang karena terlalu bernafas jepang nanti dan mungkin bapak kurang paham. hehee
BTW divapress gambatteeeee.....
ditunggu event berikutnya..

kyahhaa pasti punya saya yang jadi pesawat pesawat malang itu.. seharusnya penilaian bukan dari bernafas jepangnya karena ini kurang bernafas jepang kalo cuma diliat dari kimono yukata, penulis seperti kurang yakin dan hanya menebak nebak. kalo penilaian dari quotes ya wajar bgt saya suka “Aku hanya ingin kau tahu, kebahagiaan itu diciptakan. Bukan menunggu dengan sendirinya. Kebahagiaan itu ada dalam diri setiap orang. Bukan bergantung pada hal lainnya,”

Selamat yaaaaa :)

Wah udeh rame bener ya....
Haduhhh dibuat pesawat-pesawatan? Mungkin salah satu cerpenku juga, tapi it's fine seman-seman

Bayangin aja ada 700 naskah dan penjurian hanya 10 hari, sehari baca 100 naskah, 1 naskah 10 halaman... sehari baca 1000 halaman oh myyyygiaaattt... gag cenut-cenut itu mata sama otak... so, jurinya punya metode sendiri dalam penjurian....

Ternyata juri-juri event nulis gitu nilainya dari halaman pertama dulu, kalo dari halaman pertama udah bikin penasaran dilanjutin halaman berikutnya... trus melompat ke ending... tapi kalo dari halaman pertama usah bikin ngantuk, ya buat apa lagi? buang2 waktukan padahal masih ada ratusan yang belum kebaca... kecuali kalian terima kalau penilaiannya di undur jadi satu tahun, lho? hehhee... (ga mungkin kali ya, nungguin 10 hari buat pengumuman ajah udah gregetann, tiap hari nanya "Min pengumumannya khaapannn?" << aku kalo yang ini)

bukan bermaksud menyinggung, soalnya aku sama kaya yang dibuat pesawat2an hiks... hikss.. hikss... tapi dari itu aku mencoba mengkoreksi diri... "oh, gitu tho cara penjuriannya" jadi kita jadi tahu dan tidak mengulangi kesalahan yang sama..

besok kalo buat lagi yang halaman pertama kita buat yang CETAR MEMBAHANA ya teman-teman, biar jurinya penasaran... trusss buat ending yang AKHDESS... hehehe

Buat cerpen yang jadi pesawat2an kita simpen dulu filenya. Kita permak deh yang cucok... di Save. Kalo ada event yang temanya sama lagi kita coba kirim... seperti salah satu kata-kata penulis senior "NASKAH KITA PUNYA JODOHNYA SENDIRI-SENDIRI" so, gag perlu kuatir... jodohkan udah ada yang ngatur ya ga- ya ga #Preeett

Ada cerita juga dari temen penulis dulu naskahnya gag lolos dalam suatu lomba. Terus bulan kemarin ada lomba lain yang temanya sama. Daripada buat dari awal, dia pake deh cerpen yang dulu kalah itu. dia permak sedemikian hingga... dan ternyata naskahnya LOLOS, cihuyyy ... emm...
So, jangan berfikir naskah yang kita buat itu sia-sia.. jangan-jangan... (ingat jodoh sendiri2 ^_^)

Yok, kita tetep nulis! semangat-semangat...!!!!!!! peluk satu-satu...

Woyyy ralattt... aku Anonimous yang sebelumnya ^^... makhlum matematikan Njeblukkk

"Bayangin aja ada 700 naskah dan penjurian hanya 10 hari, sehari baca 100 naskah, 1 naskah 10 halaman... sehari baca 1000 halaman oh myyyygiaaattt... gag cenut-cenut itu mata sama otak... so, jurinya punya metode sendiri dalam penjurian...."

ini kok gue bodo banget yakk... 700/10 kok seratus.. xixiix... wat eperlah, pokoknya ngerti kamsut gue kan ^_^ tetep banyak pokoknya... sehari 700 hal A4... manusia normal apa mampu?

masa sih ada 700 bukannya daftar finalis yang masuk udah pernah di shared di blog nya divapress.. 500 naskah aja gak sampe kali.... coba aja itung sendiri Lebay banget sih pada..

buat yang di atas ane... salaman dulu yukkk.... <3 gag ngerti berapa sbenere, kmaren katanya 700an hehehe.. maap kalo salah.... kamu udah itung sendiri ya? gud gud gud ^_^

Semakin ke sini komentarnya semakin dipenuhi orang-orang sakit hati. Wajar kecewa manakala mendapati kekalahan. Saya termasuk yang kalah dalam lomba ini. Kecewa, pasti. Tapi coba ikuti logika ini:

Setiap peserta merasa karyanya baik. Bahkan mungkin merasa sebagai yang terbaik, karena sudah begadang mencari info tentang Jepang. Sisi lain dari merasa paling baik adalah menempatkan karya orang lain tidak lebih baik. Iya, kan?

Seobjektif apapun, juri tetap bermodal seleranya sendiri dalam menentukan karya yang terbaik. Kelebihan juri dibanding peserta, beliau tidak mewakili karyanya sendiri ketika melakukan penilaian. Mau Rafandha, Ujang, Jenap, atau siapapun penulis yang kemudian akan menang, beliau tetap menilai dari karyanya. Nah, dalam lomba ini, selera beliau terpuaskan oleh cerpen karya Rafandha.

Nah, jika di hari pengumuman itu yang menang bukanlah Rafandha, melainkan Ujang, tentu (sangat mungkin) Rafandha kecewa berat karena dia merasa karyanya sudah sangat baik. Rafandha berpikir bahwa dia sudah melakukan banyak usaha untuk memenangkan lomba ini. Atas dasar kekecewaaan, ditulislah olehnya komentar terhadap hasil penjurian. Penulis lain yang punya perasaan yang sama dengan Rafandha mendukung argumennya bahwa, karya Ujang tidak sebagus yang juri bilang!

Nah, jadi cukuplah, jangan merasa bahwa karya yang kita ikut sertakan adalah terbaik. Lihat karya di atas dengan mata seorang pembaca biasa, bukan peserta yang baru saja kecewa. Atau jika ingin membandingkan dengan cerpen lain, beli bukunya, baca karya-karya di dalamnya. Mungkin nanti ada satu dua yang mewakili selera kita. Mungkin.

Setiap kita ikut kompitisi. pasti ada 2 kemungkinan. Menang ato kalah. Jadi selain siap menang. siapin mental siap kalah juga dong. Saya ikutan lomba ini dan kalah. Kecewa pasti ada. Tapi apa penting apa yg bakal kita lakukan selanjutnya...

Kalo aku bandingin cerita aku dan cerita rafandha, cerita aku kalah jauh dari segi teknik penulisan. walau dari segi isi cerita, aku ngerasa cerita aku juga bagus kok balik sama cerita ini lagi, Rafandha piawai bgt ngolah kata. rajin ngumpulin data.

klo masalah salah mengenai beberapa hal jepang itu wajar kok.
gini ya, dari kesalahan ttg jepang'nya Rafandha, gw jadi tahu klo rafandha itu buta ttg jepang sebelum dia nyari info. Dan di internet banyak info ttg jepang dan biasanya kita percaya pada hal yang pertama kita temukan di internet. gak semua info di internet juga benar kan? Nah hebatnya Rafandha disitu, dia yg gak tahu jepang sama sekali, bisa bikin suasana yg jepang bgt....

Guys, ambil hikmah posotif'nya. Dari analisis ini kalian harus belajar, terlepas dari kata2 pakCEO yang langsung tanpa basa-basi. Dari sinikalian kan bisa tahu, cerita yg dicarisama juri diva press itu seperti apa. Bisa kalian kan di lomba diva berikutnya. Tanpa sharing dari pak CEOini. pasti klo ada lomba lagi dari diva yang menang itu-itu lagi. Soalnya balik klo selera gak bisa diganggu gugat...

Sri Wahyuni Fatmawati Pulungan
delete

apapun komen kawan-kawan saya apresiasi sama pengarang yang bisa memenangkan lomba ini, jujur saya kecewa karen bukan saya yang menang. mungkin ini bisa jadi pelajaran buat saya.
:)

"Bagus dan tidak bagus" adalah penilaian objektif, "suka dan tidak suka" adalah penilaian subjektif.

Cerita yang BAGUS BELUM TENTU DISUKAI, sementara cerita yang DISUKAI BELUM TENTU BAGUS.

Saya nggak ikutan lomba ini, tapi nemu link blog ini di FB, jadi ikutanbaca, deh.

Cerpennya bagus, mengalir, lumayan bikin penasaran, apalagi ada sentuhan pesan moralnya. Tapi kalau disebut jenius, berlebihan kali, ya... (entahlah, mungkin karena saya sering baca manga, jadi topik teru-teru bozu pun sebenarnya nggak terlalu istimewa). Tapi karena si penulis tidak memilih topik yang pasaran (sakura, hanami, dll) maka cerpen ini jelas menarik perhatian, so... pilihan topik yang bagus sebenarnya dan jadi poin plus tersendiri.

Oh iya, di awal cerita saya agak sulit mengidentifikasi si 'aku', apakah dia cowok atau cewek, awalnya kukira cewek (maklum, saya cewek, dan biasanya cerita romance gitu tokoh utamanya cewek), ternyata saya salah, haha. Nggak masalah, sih, tapi andaikan chara digambarkan lebih detail, mungkin lebih keren kali ya, hehe.

Ending bagus, tapi agak ilfil di bagian mengajak kencan :D

Well, selamat buat pemenang, dan terus semangat buat yang nggak lolos ^^

Aku tersenyum sewaktu membaca cerpennya..

Nice story..

Fuyu? yang kutahu fuyu itu musim dingin. mungkin maksud penulisnya adalah 'Natsu'

waw, mengalir banget ceritanya. andaikan si cewek rambutnya panjang, bkan dipotong model bob
*berimajinasi sendiri

sepertinya telat komen nih... hahaha
ceritanya bagus! mengalir dan dapet segi moralnya kok, itu yang aku suka, soalnya cerita jaman sekarang, jarang banget yang bermoral ex: "cintaku mentok di angkot" (?)
ada beberapa hal yang aku koreksi disini..
fuyu musim dingin, kan? yang aku tahu, hujan di Jepang malah turun selama 2 minggu di musim gugur, kan? (but, that's just a story... aku menghargai karya orang, yeah... good imajination)
lalu... komen orang2 meributkan masalah "haha" dan "okaa-san"? selama saya baca cerita berjepang-jepangan (baik manga atau fanfiction), that's no problem. Di anime-pun aku sering dengar chara-nya bercerita tentang ibunya pada orang laen dengan menggunakan "okaa-chan atau okaa-san atau malah okaa-sama"
okay ide unik, kenapa aku berkata sperti itu? that's because, seperti kata juri, di pikiran orang-orang, berlatar Jepang itu berarti sakura, Kyoto, de el el, dan pasti deh pikiran tentang hal yang sepele terlupakan. Padaal banyak banget hal di Jepang yang bisa dijadikan ide, yeah sure example teru-teru bozu, atau... tentang maiko dan geisha? atau... koinobori? banyak kok... tapi kalo nyari ide yang masih "fresh" emang gak ada... coba bayangkan ada berapa banyak penulis di dunia ini dan berapa banyak karya2 yang muncul? that's so many!! jadi penulis baru harus bisa mem-"permak" ide-ide dulu menjadi baru dan segar, dan pasti gak seperti sinetron... okay! that's all

Ikutan komen ah~ Pak CEO, yang semangat yach.. protesannya banyak euy...

Menurut aku, dipostingnya analisa ini itu bagus banget. Setidaknya kita jadi ngerti cara penjuriannya.

Tapi masalah hasil penilaiannya gimana, yah seobjektifnya orang pasti tetep aja ada subjektifnya, kembali ke masalah selera. Namanya juga manusia.

Jujur aku sendiri kalau baca sesuatu juga kalimat pembuka itu penting. Males banget baca yang awal aja ga bisa menarik. Tapi juga sakit hati kalau diperlakukan seperti itu.
Cara amannya biar ga sakit hati, ya buatlah awal yang menarik, semakin banyak latihan feel sama sense pasti akan suatu hari bisa bikin kok. *I believe*


Tapi kalau udah merasa ceritanya bagus tapi kok belum dipilih, ya balik lagi berarti belum jodoh dan belum beruntung. Harus kembali periksa diri, dimana salahnya nulis ceritanya. Sesempurnanya cerita, menurut aku ga pernah ada yang sempurna. Semakin dibaca semakin banyak yang kurang rasanya. Tapi apa yang paling menonjol itu yang terpenting.

Cerpen Teru - Teru Bozu ini menarik kok menurutku yang pembaca biasa, yang ga ikutan lomba. Bahasanya menarik dan topik yang diangkat juga cukup menarik. Yah meskipun ga bisa dikatakan jenius juga. Tapi untuk sebagai cerpen, cerita ini terasa lengkap.

Dan aku setuju kalimat pembukanya itu menarik banget. kekeke...

Nulis itu pake hati tulus, teman - teman. Jangan pake tinggi hati. ^^v. Aku juga sering ikut lomba dan sering kalah, bahkan sampe sekarang belum pernah terbit. hehehe.

Tapi pada awalnya kalian nulis juga karena suka atau apa? Berharap menang itu baik, tapi terlalu merasa diri jauh lebih baik itu sombong. Kalau jatuh juga berasa jauh lebih sakit.

Anyways, ini semua cuma opini aku aja. Ga usah dianggap serius apalagi didebat ampe ngotot. hehehe. Kalau ada yang salah kata, ya dimaafkan saja. Khilaf.


By the way, pak CEO. It's a joke, right? Soal pesawat - pesawatannya... biar pada selow bacanya. ga terlalu tegang.

Btw, penilaian ala Pak CEO itu lazim. Semua penerbit setahu aku juga pake penilaian seperti ini.
Halaman pertama itu penting. Ending juga penting. Coba aja dicek, setiap kali aku lihat penerbit manapun keluarin cara penilaian selalu kurang - lebih gini lah caranya...

halooooo...!!! rame banget yak!!!

keren banget cerpennya. semuanya bener - bener perfek. penulisnya cerdas :)

Penulis yang baik itu, menulis dengan hati bukan dengan akal saja, masalah menang atau kalah seharusnya tidak menjadi prioritas utama, yang terpenting kita sudah mencoba walaupun kita kalah, kita harus belajar menganalisa dimana letak kesalahan kita lalu mengoreksinya untuk lebih baik lagi. jika kemenangan hanya prioritas utama, maka kita bukanlah penulis sejati karena kita menulis karena ingin mendapatkan sesuatu. menulis itu ide, perasaan, khayalan, ungkapan dan biarkan mengalir seperti air.. apa adanya.

memang kata-kata Bapa Edi tidak terlalu halus, tapi itu harusnya menjadi tamparan yang cukup keras untuk membuat kita lebih semangat mengoreksi diri dan berubah menjadi lebih baik lagi, bukankah pelaut yang hebat lahir dari ombak dan badai yang besar dalam mengarungi lautan? jika airnya tenang mungkin tidak bisa dikatakan sebagai pelaut hebat bukan? so.. teman-teman tetap semangat dalam menulis jalan masih panjang dan kesempatan masih terbuka lebar :))

saya hanya mencoba sharing dan ini pendapat saya pribadi, mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung dengan pendapat saya ini.

untuk cerpen ceritanya cukup menarik, memang betul teru-teru bozu sudah tidak asing dalam film atau manga tapi setidaknya penulis memilih tema yang berbeda dari peserta lainnya. gaya bahasanya sangat baik dan cerdas dalam pemilihan kata. Selamat untuk Pemenang... seorang penulis lebih butuh kritik daripada pujian, karena kritik akan membuatmu lebih baik ... so, semangat frandaa keep writing ^^

wah, banyak pelajaran yg bsa diambil...

bakal ada pembahasan karya2 pemenang event2 Diva Press lagi nggak ya? *excited

Back To Top