Personal Blog

MENUNGGU SANG DUNIA





Bila kau melihat seorang gadis, setia berdiri nyaris sejam lamanya, di beranda sebuah toko yang mengatup, ditingkahi kecipak air hujan yang berdendang di atas kepalanya, di atap yang tua, dan tatapan matanya tak bosan-bosan mengeja air-air yang berlarian menyongsong takdirnya di depan kakinya yang gigil, dan niscaya kau tak mengerti sedikit pun makna ejaannya selain menerkanya sedang didera gundah menunggu seseorang nun entah, berilah permakluman segera pada hatimu sendiri bahwa ada sebuah dunia yang amat besar, indah penuh warna, mencahayai sekerat hatinya, dan kepadanyalah kehidupan ia berikan, yang takkan rela dipertukarnya dengan berapa pun, apa pun, dan siapa pun lainnya, yang berjanji akan mendatanginya dan untuk itulah ia bersetia menjadi sang penunggu.
Menunggu memang bukanlah pekerjaan yang menyenangkan buat siapa pun. Tetapi demi sebuah dunia yang di dalamnya kehidupanku bersujud semayam, apa yang perlu tidak dipertaruhkan?
Waktu selalu hanyalah kelebat-kelebat bendawi yang kau sebut kesia-siaan lantaran kau tak menjadi bagian dari kebendawian itu. Seorang lelaki yang di matamu adalah sebuah bendawi, yang ditunggunya bermasa-masa, yang bukan sama sekali denyar hatimu, sehingga ia bukanlah secuil pun lambaran waktumu, wajar kau tabalkan suatu kesia-siaan semata. Namun ia akan seketika berbeda semutlaknya manakala dia adalah bendawimu, karenanya ia waktumu, di dalamnya kau hidup dan kepadanya harimu bersimpuh –maka ia adalah kehidupanmu, duniamu, dan bagaimana kau masih akan mendaku suatu penantian semata kesia-siaan?
Sia-sia dan tidak ternyata semata perihal denyar-denyar makna yang aku rasakan dan tidak kau rasakan.
Bila kau lihat mataku basah oleh air mata, berhentilah mentertawainya, sebab hanya aku yang merasakannya dan kau tidak sama sekali, kendati mungkin saja sejenak kau akan melihat sekerat tawa kuseret paksa untuk sekadar menciptakan jeda di rongga dada.
Pada sebuah dunia yang menggenggam kehidupan kita dan sebab itu kita sungguh tiada makna belaka tanpanya –dan hidup tanpa makna bukankah teramat mengerikan untuk dihuni?—segala apa yang ada pada kita adalah segala hanya untuknya.
Aku mungkin saja pernah terjungkal dibenamkan lelah, kecewa, marah, lara, nestapa, tetapi itu sesekalipun takkan membuatku berhasil menanggalkan banjaran damba pada duniaku. Kita semua lalu menghibur diri dengan menyenaraikan fatwa betapa kita menjadi sebenar-benarnya manusia berkat silih-bergantinya rasa-rasa itu di dalam dada –mungkin ia sekadar dusta, boleh jadi pula ia senyatanya pengertian. Aku pun terhibur. Kau pula.
Sang dunia selalu perkasa meredamnya, melumatnya, dan secepat itu pula menarilah keriangan, harapan, kebahagaiaan, dan kita menyanjungnya begitulah kehidupan.
Di antara lalu lalang penerjang hujan di malam yang angin-anginnya terasa lebih pilu dan senyap dibanding malam-malam sebelumnya, ia pun berjumpa dengan dunianya, kehidupannya.
Perhatikanlah kini: bukankah senyapnya telah sempurna menjelma senyum merekah?; penantiannya terbayarkan cahaya bahagia?; kesia-siaan menunggu –ya, kau berpikir demikian beberapa menit lalu—adalah sebuah dunia yang luar biasa menghidupinya?
Tak ada yang pernah sia-sia di muka bumi ini. Tidak pula kebetulan semata. Semua mewedarkan makna. Tetes hujan di malam jelaga. Seeekor cecak yang bersetia menunggu makan malamnya. Bagaimana mungkin kau rela tidak menunggu dan mencapakkan duniamu?
Aku memang bukanlah siapa-siapa bagi dunia maha luas ini –sekadar debu, sebutir pasir, seutas benang, atau seserpih geliat; tetapi akulah sang dunia baginya dan dia adalah sang dunia bagiku.
Duniaku tanpa dunianya dan dunianya tanpa duniaku adalah semutlaknya puncak kesedihan yag takkan tuntas dikisahkan dalam ribuan cerita air mata yang paling tak ingin kau baca, sebab ia adalah milikku dan aku adalah miliknya –dan kau tidak ada di antara semua itu. Akulah kehidupannya dan dialah kehidupanku –kau takkan pernah sanggup menakjubi lautan makna yang kulayari, kurasai, dan kunikmati sekalipun kau sesekali melihatnya berwarna putih dan lain kali kau menyebutnya hitam.
Pada sehelai dunia yang merupakan bagian dari kerat-kerat dunia maha luas ini, akulah sang kehidupan itu berkat hadirnya dan akulah sang kematian itu tanpa hadirnya. Kehidupan dan kematian setipis itu belaka di hadapan duniaku dan dunianya –itulah sebabnya, setiap kita seolah tak lagi memiliki kehidupan bila sang dunia tak lagi ada untuk kita.
Apakah sang dunia tak bisa digantikan oleh sang dunia yang lain?
Lelaki amatlah berserak dan perempuan amatlah berarak. Ini sungguh bukan tentang berserak dan berarak yang seakan kau tinggal mengais satu di antaranya. Ini semata tentang ada dan tiadanya sesosok bermahkotakan duniaku.
Bagi gadis yang setia menunggu dunianya datang dari balik hujan di malam kelam itu, jawabannya jelas tidak. Bagimu, sembari tersenyum sangat ringan, bisa. Sangat mudah malah. Semudah kau ereksi pada ketiak-ketiak yang terbengkalai di depan mata seolah tiada yang punya. Sebab kau berdiri tidak di atas kakinya, kau tidak pernah merasakan kekudusan dunianya di kedalaman jiwanya. Hatimu tidak pernah seruah hatinya yang penuh rela pada dunianya.
Pada saat malam semakin tua, dunianya tiba. Dunianya memeluknya. Ia serentak menjelma bintang-bintang di langit sana. Adakah kebahagiaan yang melampaui bintang-bintang? Kau, yang berdiri di seberang jalan dan sedari tadi menatapnya, tidak pernah bisa bersiturut bahagia.
Andai kau adalah air-air hujan yang berlarian mengejar takdirnya untuk lesap ke kedalaman tanah yang gulita di depan kakinya yang gigil, kau akan tahu mengapa hidup ini tidak pernah tuntas dibicarakan. Ia hanya perlu dirasakan.
Jogja, 20 November 2016



0 Komentar untuk "MENUNGGU SANG DUNIA "

Back To Top