Personal Blog

ANTARA ADA DAN TIADA



Bila kamu sedang berada di posisi lelah, simaklah lagu pilu Utopia ini:

Setiap kumengingatmu
Kuterasa di hati
Kau punya segalanya
Yang aku impikan…
Walau kutahu kau tak pernah anggapku ada

Kamu akan menangis. Meratapi poisismu yang kalah. Lantas, kamu akan memekik betapa hidup ini kejam, Tuhan sangat tak adil padamu. Tak peduli kamu orang berduit, terdidik, tenar, “rasa kalah” itu memang menyedihkan. Menyakitkan. Sia-sialah kekuatan materimu, ketangguhan logikamu, dan pesona populermu.
Begitu mudahnya bagi hidup ini untuk membuatmu jatuh, jungkal, bagai hujan yang diluruhkan oleh gravitasi dari langit yang jauh dan murung. Hah, ternyata ya, segala apa yang lekat pada diri kita, sebutlah itu pesona fisik hingga kecerdasan, hanyalah debu-debu fana yang tiada daya di hadapan hukum semesta.
Kita semua sejatinya hidup untuk menjalani pilihan-pilihan. Soal sebuah pilihan menisbatkan sedih atau bahagia, ada atau tiada, itu sekadar konsekuensi dari sebuah perjalanan hidup. Bahagia yang sekejap boleh jadi begitu terang nyalanya di relung kenangan kita bahkan sampai akhir hayat dibanding sedih yang melingkupi semalaman untuk kemudian di esok paginya punah disepuh oleh embun pertemuan.
Memilih adalah sebuah jalan kehidupan. Memilih selalu mewasiatkan ironi: sedih atau bahagia, ada atau tiada. Maka bila kamu telah memilih, yang tentu tak lahir dari ruang kosong, peluklah ia dengan sehangat-hangatnya. Ironi lalu memang akan menyertaimu, terimalah ia, sebab hidup ini merupakan kumpulan mimpi yang sebagiannya menjelma berahi dan sebagian lainnya menjelma ironi.
Bahagia atau sedih, ada atau tiada, sebagai sebuah pilihan hidup sejatinya tak pernah benar-benar memiliki batasnya; di dalam sedih, selalu ada bahagia; di dalam bahagia, selalu ada sedih; di dalam hidup selalu ada mimpi, di dalam mimpi selalu ada ironi, dan di dalam ironi selalu ada mimpi.

Kutak bisa menggapaimu
Takkan pernah bisa
Walau sudah letih aku tak mungkin lepas lagi
Betapa ingin aku berlari
Dan terlepas dari dirimu
Tapi semakin kumencoba
Aku ingin kembali…
Jogja, 18 Desember 2014
0 Komentar untuk "ANTARA ADA DAN TIADA"

Back To Top