Personal Blog

Anda Aku Tidak Menjadi Manusia

Sungguh kian sering aku menyesal mengapa aku harus menjadi manusia, tidak menjadi sapi, kambing, atau bahkan batu saja.
Menjadi sapi atau kambing, sungguh sangat sederhana. Lahir, hidup, makan, kawin, lalu mati. Selesai. Pula menjadi batu: diam saja atau diambil orang untuk dijadikan pondasi bangunan. Selesai.
Tetapi, menjadi manusia?!
Arrghhhhhhhhhhh….ampuunnn!!!

Tidak sebagaimana kambing, sapi, atau batu, Tuhan menyematkan hati dan akal ke dalam diriku, yang dengan dua bekal itu, aku harus mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan-Nya.
Secara biologis, sebagai makhluk hidup, aku pun sebenarnya persis kambing dan sapi: lahir, makan, besar, kawin, lalu mati. Tetapi, sebagai manusia, urusanku tidak selesai sampai di sini.
Aku harus mempertanggungjawabkan segala lakuku selama hidup di hadapan-Nya, dan inilah beda yang tidak dipikul oleh kambing dan sapi.
“Duuhhh, ngerinya menjadi manusia!” gumamku sepanjang malam yang dingin berkabut.
Apa gerangan yang akan kusodorkan kepada Tuhan atas dua dimensi pertanggungjawaban sekaligus itu: pengabdian pada-Nya (‘ubudiyyah) dan pengabdian pada sesama (mu’amalah)?
Disematkannya hati padaku membuatku melek bahwa aku harus mengabdi pada-Nya, beribadah pada-Nya, sebagai kewajiban sahaya kepada Tuannya, ‘abid kepada Ma’bud.
Plus dengan anugerah akal, aku menjadi tahu bahwa ini haram, ini halal, ini jangan dilakukan, ini kudu dilakukan, dan seterusnya.
Tetapi, tetapiiiiiiiiiiiiiiii….bagaimana laku ibadahku selama ini pada-Nya?!
Nolll! Nooolllllllllllllllllllll….!!!
Bagaimana mungkin aku bisa mengklaim telah beribadah pada-Nya dengan baik, jika ternyata shalatku masih ting plecit, babak-belur, kadang ditegakkan kadang bablas, bahkan kalaupun istiqamah kutegakkan ternyata jauh panggang dari nilai hakiki shalat itu sendiri?!
Bagaimana mungkin aku pede menyebut aku mushalli (pengamal shalat) jika faktanya sejak takbiratul ihram sampai salam aku tidak ingat pada-Mu, ya Rabb?!
Shalat macam apakah yang sejak awal sampai akhir selalu saja yang kuingat adalah uang, perusahaan, relasi, mobil, rumah, tanah, sahabat, angsuran, cita-cita, dan segudang hal-hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan urusan rukun dan apalagi hakikat shalat?!
Shalat sialan macam apakah ini, ya Rabb?!
Shalatku lantas hanya laksana senam Salsa atau Poco-Poco. Inikah ibadahku? Inikah pengabdianku pada-Nya?
Betapa bedebahnya shalatku!!!
Jika diurai begitu lebih jauh, maka dapat kupastikan bahwa semua amal ibadahku, dari shalat, puasa, zakat, hingga haji/umrah sungguh jauh panggang dari hakikat makna diperintahkannya ibadah-ibadah itu, yang oleh-Nya ditetapkan sebagai penanda kemusliman seseorang. Lalu senyatanya muslim macam apakah aku ini bila penanda-penanda wajib itu tidak bisa kurengkuh dengan semestinya?
Masih layakkah aku menyebut diriku muslim, mukmin, yang berharap surga-Nya, sementara sejatinya lakuku selalu gagal menegakkan dimensi-dimensi hakiki keislaman itu?!
Arrrrggghhhhhhh…arrrghhhhhhhhhhhhhhh…!!!
Lalu, saksikan pula tingkah-polahku terhadap sesama (mu’amalah).
Jelas-jelas Tuhan melarangku berkata kasar, sombong, menipu, munafik, pelit, riya’, dan seabrek kedurjaan lainnya, yang itu semua berpuncak pada perintah memuliakan orang lain setinggi-tingginya, dengan cara menekuk-lipat ego diri sedalam-dalamnya. Tapi, ahhhh…ternyata aku selalu gagal mengembannya pula!
Benggak, songong, arogan: inilah aku banget!
Aku selalu sulit untuk menerima kata-kata atau sikap siapa pun yang oleh egoku dianggap merendahkanku, sekalipun apa yang dikatakan adalah benar adanya bahwa aku memang penuh kesalahan dan kedurjaan. Sejuta silat lidah kulancarkan, jika perlu dengan mata mendelik dan kata-kata bermata silet, plus intimidasi gampar-gampar, untuk menampik semua keburukanku yang riil adanya, agar aku selalu tinggi levelnya!
Bukankah ini sangat bertentangan dengan perintah-Mu untuk rendah hati, ya Rabb?!
Aku begitu pelit untuk menyodorkan bantuan pada orang lain yang sangat bisa kubantu lantaran aku teramat sangat cinta hartaku, bahkan kubiarkan nurani mati oleh kebebalanku sendiri. Enak aja mau utang! Utang mulu! Dan seabrek serapah kepelitan lainnya.
Bukankah ini tidak selaras dengan perintah-Mu, ya Rabb, untuk menolong orang lain, tanpa kosa kata dan kosa sikap merendahkan dan menghinakan (manna wala adza)?
Sebaliknya, betapa mudahnya aku membanggakan diri atas secuil kebaikan, dan menyebut-nyebutnya selalu sebagai saksi kemuliaan hatiku, kedermawananku, kelapangan dadaku mengulurkan tangan pada orang lain, yang pada detik yang sama, menyebabkanku begitu alpa pada semua kebejatan dan kebrengsekanku pada Tuhan dan sesama sekaligus.
Duh Gusti, sungguh semua lakuku pada orang lain begitu jauh dari citra kerendahan hati, lantaran aku selalu ditaklukkan oleh gemuruh egoku sendiri, meski kutahu bahwa ego adalah kesemuan maha nisbi. Ego adalah kefanaan yang bila terus kuperturutkan hanya akan menghadirkan kesia-siaan: tetapi mengapa aku masih saja terus-menerus memuja kesia-siaan itu ya?
Begitu lambungnya aku menyebut diriku telah berbuat baik, berbanding terbalik dengan begitu pelitnya aku untuk menyadari diri telah berbuat sejuta kebejatan, yang sejatinya bila diukur secara matematis, sungguh kebejatanku berkali-lipat banyaknya dibanding segala kebaikanku.
Lalu, lalu, lalu apa yang masih bisa diharapkan dari diri yang model begini, yang sebentar lagi bakal mati, sebagaimana kambing dan sapi yang juga mati, yang akan mempertanggungjawabkan semua bejatku di hadapan-Nya?
Apa coba, apaaaaaaaaaa?!!!
Ahhh, Tuhanku, sungguh akulah ini si ahli neraka itu!
Rasanya tak perlu lagi malaikat menghisabku kelak, tetapi langsung mencengkeram leherku, lalu melemparkanku jauh-jauh ke kerak neraka, lantaran menghitung baik-burukku pastilah sia-sia dilakukan sebab dosaku telah terlalu berlebihan banyaknya dibanding laku baikku.
Ah, andai aku menjadi kambing, sapi, atau bahkan batu, pastilah aku hanya akan menjadi lebur tanah pada saatnya kelak. Selesai. Sungguh, kondisi ini jauh lebih baik dibanding aku kelak dilemparkan ke kerak neraka oleh-Nya.
Ya Allah, aku tak sanggup menghadapi siksa-Mu, neraka-Mu. Hanya ampun-Mu dan ridha-Mu yang bisa menyelamatkanku dari jilatan api-Mu, bukan amal-amal baikku, sama sekali bukan, sebab kusadar sesadar-sadarnya betapa tak ada secuil kebaikan pun padaku yang layak kubanggakan di hadapan-Mu….
Hiikksss…

Jogja, 21 Juni 2011
4 Komentar untuk "Anda Aku Tidak Menjadi Manusia"

aq udah punya bukunya om...
hehehehe......

nice...kadang kalo udh berbuat baik sekali udh ngerasa bisa msuk surga,pdahal jauh dbalik itu brp bnyk kburukan yg g terhitung,ho.ho.ho..maksh atas tulisannya mas,he.he,...

Back To Top